Pacitan

Gathering sekaligus Baksos ala Komunitas CB Pacitan Bersatu

Para pencinta motor Honda CB di Kota 1.001 Gua terhimpun dalam Komunitas CB Pacitan Bersatu (CBPB). Baru setahun terbentuk, anggotanya sudah 60 orang. Mereka aktif gathering dan bakti sosial sebulan sekali.

————–

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

PULUHAN motor Honda CB klasik terparkir rapi di depan Kantor Bupati Pacitan. Tak jauh dari lokasi kuda besi itu berjejer, para penunggangnya berkerumun. Asyik berbincang satu sama lain dengan diselingi gelak tawa. Mereka yang sedang nongkrong di Jalan Jaksa Agung Suprapto itu tergabung dalam Komunitas CB Pacitan Bersatu (CBPB). ‘’Mumpung masih sore,’’ kata koordinator Komunitas CBPB Muhammad Adi Satria.

CBPB tergolong komunitas berusia muda di Pacitan. Sebab, baru terbentuk tahun lalu. Namun, untuk urusan jumlah anggota, komunitas ini patut diperhitungkan. Dari sebelumnya hanya lima orang, kini sudah memiliki 60 anggota. Belajar dari permasalahan internal komunitas serupa lainnya, anggota CBPB sepakat tidak membuat struktur organisasi. ‘’Biar lebih terasa kebersamaannya dan saling guyub rukun,’’ ujar warga Kelurahan Baleharjo, Pacitan, ini.

Kegiatan anggota CBPB diisi sharing ilmu modifikasi motor dan touring ke luar daerah. Juga gathering dengan sesama anggota sebulan sekali. Untuk agenda pertemuan, komunitas itu membuat sistem chapter di setiap kecamatan tempat tinggal anggota. Bila kedapatan jatah menjadi tuan rumah, koordinator chapter wajib menentukan titik berkumpul. ‘’Lokasinya bukan tempat wisata atau spot menarik lainnya, tapi yang memenuhi unsur sosial,’’ terang pemuda 29 tahun itu.

Misalnya, gathering di sebuah desa yang sedang membangun tempat ibadah. Kehadiran anggota CBPB di desa itu bakal diikuti bakti sosial (baksos). Kegiatan tersebut yang membedakan komunitas Adi dkk dengan lainnya. Pun, mereka ingin menghapus stigma negatif komunitas motor. Dianggap arogan oleh pengguna jalan lain karena rombongan selalu memenuhi badan jalan. ‘’Komunitas ini sekaligus wadah meningkatkan iman dan introspeksi diri,’’ ujarnya.

Lokasi gathering tidak jarang di desa pelosok dengan akses sulit. Nah, dalam perjalanan menuju lokasi itu, seringkali para anggota CBPB mendapat ilham. Misalnya, pengalaman gathering di masjid kawasan pesisir pantai di Dusun Miri, Wonokarto, Ngadirojo. Perjalanan ke sana harus melewati medan terjal. ‘’Meski jaraknya jauh, warga di sana ke masjid untuk beribadah. Sedangkan kami yang rumahnya dekat masjid, ada yang belum rutin salat,’’ ungkapnya.

Hati para anggota CBPB juga diketuk dari momen menyumbang uang ke kotak amal. Terkadang mereka merasa berat mengambil selembar uang untuk uang saku di akhirat. Situasi bertolak belakang ketika tanpa pikir panjang membuka rekening tabungan untuk keperluan memoles motor. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button