Ponorogo

Galang Dana lewat Medsos, Komunitas Keranjang Sedekah dan Lentera Konsisten Berbagi untuk Sesama

Jiwa sosial sangat dimiliki para anggota komunitas Keranjang Sedekah dan Lentera. Berbagai kegiatan sosial pernah mereka lakukan demi saling berbagi. Baik itu bagi-bagi nasi bungkus, mendirikan gedung sekolah, maupun khitan masal.

============================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

GEDUNG dua lantai MTs Uyyun Al-Hikam di Desa Prajegan, Sukorejo, Ponorogo, kini berdiri kokoh. Bangunan berusia dua tahun itu merupakan salah satu bentuk usaha dari komunitas Keranjang Sedekah dan Lentera Ponorogo dalam membantu jalannya pendidikan.

Madrasah itu dibangun dari hasil galang dana yang mereka lakukan. ‘’Selain di Sukorejo, sebelumnya lebih dulu kami membangun MTs Sunan Ampel di Dayakan, Badegan,’’ kata Listiwi Candra Widyastuti, founder perkumpulan sosial Keranjang Sedekah dan Lentera, Selasa (26/11).

Saat itu, Listiwi dkk mampu mengumpulkan dana Rp 50 juta untuk mendirikan madrasah tersebut. Pendirian MTs itu sekaligus sebagai fasilitasi siswa madrasah ibtidaiyah (MI) di desa tersebut ketika lulus kelak. ‘’Karena daripada sekolah di luar, butuh biaya banyak. Kepala sekolahnya ingin bangun, kebetulan ada tanah kosong,’’ ujar perempuan 45 tahun ini.

Kisah nyaris serupa juga mereka alami saat membangun MTs Sunan Ampel di Dayakan, Ponorogo. Semula siswa di wilayah itu belajar dengan menumpang di rumah warga. Dari situ selanjutnya komunitas Keranjang Sedekah dan Lentera bergerak menggalang dana. ‘’Yang di MTs Sunan Ampel itu hanya satu lantai empat ruang. Terdiri tiga ruang kelas dan satu ruang guru. Prinsip kami, bantuan mendirikan sekolah akan kami lakukan kalau kita menemukan yang benar-benar perlu dibantu,’’ jelas warga Perumahan Mangkujayan itu.

Dalam pelaksanaannya, ketika mendirikan sekolah baru itu mereka bekerja sama dengan komunitas sosial lainnya yang ada di Ponorogo. Mereka juga gencar menggalang dana lewat media sosial (medsos). Bahkan, sampai mempunyai donatur tetap dari Singapura. ‘’Sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk bangun sekolah baru,’’ ujar Listiwi.

Jauh sebelumnya, komunitas Keranjang Sedekah dan Lentera sempat aktif  membagikan nasi bungkus kepada warga tidak mampu. Kegiatan tersebut mereka jalani sejak Agustus 2015. Listiwi menyebut bagi-bagi nasi bungkus dilakukan tiga kali dalam seminggu di Magetan dan Ponorogo. ‘’Jadi, gerakan kami ini awalnya pemberian nasi bungkus,’’ ungkapnya.

Listiwi menerangkan, komunitas Keranjang Sedekah dan Lentera semula terbentuk ketika dirinya sedang berada di Jogjakarta. Saat itu, dia mendapati ada warung sederhana yang pemiliknya membagikan nasi bungkus ke kaum duafa.

Dari situ kemudian jiwa sosialnya terketuk. Dia lantas mengajak beberapa temannya melakukan kegiatan serupa demi kepentingan sosial. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close