Madiun

Gadis, Bangkit, Pecel, Karismatik, atau Pendekar? Banyak Julukan, Membingungkan

BEBERAPA JULUKAN KOTA MADIUN

-Kota Brem. Jajanan khas Madiun yang telah dikenal masyarakat luas.

-Kota Pecel. Merujuk kuliner khas Madiun, nasi pecel.

-Kota Sastra. Para pelajar sangat berprestasi di bidang sastra.

-Kota Sepur (Kota Kereta Api). Dulu arus lalu lintas kereta api ramai dan terdapat satu-satunya industri kereta api di Indonesia.

-Kota Gadis (perdagangan, pendidikan dan industri). Merupakan kota industri, yakni kereta api dan gamping.

-Kota Karismatik. Mewakili segala unsur, mulai seni, kuliner, budaya, wisata, dan pelayanan publik.

-Kota Pendekar. Merupakan daerah pewaris budaya pencak silat.

============================

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Gadis, Brem, Pelajar, Sepur, Pecel, Budaya, Sastra, Industri, Karismatik, hingga Pendekar. Banyak julukan tersematkan bagi Kota Madiun. Satu sisi, aneka penyebutan itu memperkaya ikon kota. Sisi lainnya, banyak yang dibuat bingung dengan banyaknya penyebutan. Terutama bagi warga luar kota yang sering bertandang ke kota ini.

Sri Sumiarsih misalnya. Perempuan asal Ngawi yang kebetulan singgah ke alun-alun Kota Madiun untuk menikmati pemandangan. Dia mengaku sedikit bingung dengan banyaknya ikon yang melekat di Kota Madiun. ‘’Sedikit bingung sih, dengar terakhir Madiun Kota Karismatik dan Pendekar,’’ kata perempuan 26 tahun itu.

Kebingungan Sri bukan tanpa alasan. Untuk sampai ke Kota Madiun dari Ngawi dia lewat Magetan. Begitu masuk Kota Madiun melalui perbatasan Maospati, dia tidak melihat ikon ataupun gapura yang menunjukkan kekhasan kota ini. ‘’Kalau masuk dari pintu Maospati memang tidak ada simbol atau ikon yang menonjol,’’ lanjutnya.

Terlebih ketika melewati beberapa titik, dia menemukan ikon Kota Gadis yang terpampang di sekitaran Pasar Besar Madiun. Ikon Kota Pecel juga terpajang di perempatan Jalan Pahlawan. ‘’Jadi, semakin beragam dengan berbagai julukan, meskipun sedikit bingung,’’ ungkapnya sembari menyebut ikon Kota Madiun yang selalu melekat sedari dulu adalah Kota Pecel.

Irma Alayna Utari, warga Kota Madiun, lebih sreg dengan penyebutan Kota Pecel. Baginya, pecel cukup populer di luar daerah. Dia pun selalu mendapat pesanan sambal pecel asli kota ini dari saudaranya di Lampung. ‘’Sejak saya kecil, pecel yang sudah terkenal,’’ tegas Irma.

Afi Nurcahyani punya pendapat beda. Baginya, Madiun adalah Kota Gadis. Akronim dari Perdagangan, Pendidikan, dan Industri. Yang membuatnya selalu ingat adalah keberadaan PT INKA (Persero). Keberadaan rel kereta api membuat ingatannya selalu mengarah pada ikon tersebut. ‘’Madiun itu Kota Sepur,’’ kata warga asal Kabupaten Madiun itu.

Menurut Iren Berliana Alfiantina, penyebutan Kota Gadis lebih cocok disandangkan untuk Kota Gresik atau Surabaya. Karena industri di kedua kota itu jauh lebih maju. Warga asli Kota Madiun itu lebih sreg dengan penyebutan Kota Karismatik. ‘’Ada berbagai alasan. Karismatik itu lebih mencakup semuanya,’’ ujar Berliana.

Dia menjelaskan, ikon Kota Karismatik mencakup berbagai kekhasan dari Kota Madiun. Mulai tempat lahirnya berbagai perguruan pencak silat hingga kuliner khas kota setempat. Seperti pecel dan brem. ‘’Dari situlah kota ini memiliki karisma tersendiri. Kurang lebih seperti itu,’’ ucapnya.

Yopi Tri Nugroho, warga Kepel, Kare, Madiun, jatuh hati dengan julukan Kota Pendekar. Alasan yang mendasari julukan tersebut sesuai dengan tempat lahirnya berbagai perguruan pencak silat. ‘’Itu yang tidak dimiliki daerah lain,’’ terang pria yang buka lapak teh tarik di salah satu jalan protokol itu.

Dia berharap julukan yang sudah pas itu melecut lahirnya atlet terbaik di kancah nasional dan internasional. ‘’Sangat disayangkan belum ada yang berkiprah di tingkat nasional. Harus digodok agar julukan Kota Pendekar ini semakin sempurna,’’ harapnya. (kid/c1/fin)

Jangan Lupakan Akar Sejarah 

JANGAN lupakan akar sejarah. Apa pun branding yang diusung untuk Kota Madiun. Pesan itu digarisbawahi Historia van Madioen (HVM). ‘’Setiap pergantian pemimpin, branding-nya baru. Kesannya seperti itu,’’ kata Adjar Dwija, sekretaris HVM.

Dia beranggapan, city branding Kota Madiun masih tetap Kota Karismatik. Sebab, belum ada sosialisasi ataupun kesepakatan yang disahkan DPRD setempat tentang branding baru. Adapun sebutan Kota Pendekar sebenarnya merupakan program kerja Wali Kota Madiun Maidi. ‘’Kota Karismatik itu city brand-nya, kalau Kota Pendekar itu program kerja Pak Wali,’’ ujarnya.

Adjar mengakui gaung Kota Pendekar seolah menenggelamkan Kota Karismatik yang masih menjadi ikon Kota Madiun. Apa pun itu, brand yang diusung perlu pematangan konsep tata kota. Terutama konsep historic urban landscape. ‘’Dengan konsep itu, pengembangan kota tidak menyalahi sejarah,’’ tuturnya.

Artinya, seluruh pengembangan dari berbagai sektor bermuara pada budaya dan sejarah. Semisal dalam pemberian nama jalan. Ada beberapa tokoh lokal yang sangat berjasa untuk Madiun belum dipatrikan namanya. ‘’Ini penting untuk edukasi warga kota,’’ sambungnya.

Adjar menyebut tokoh lokal seperti Wali Kota Madiun Sampurno atau Raden Mas Tumenggung Ronggo (RMTR) Kusnindar, bupati Madiun periode 1937-1954. Kedua tokoh itu berjasa besar saat Jepang menguasai Madiun. ‘’Keduanya sama-sama mengungsi untuk merebut kembali wilayah Madiun,’’ paparnya.

Kedua tokoh tersebut dinilai berjasa besar. Sebab, menjadi tokoh sentral dalam perebutan senjata Nippon (Jepang) di Madiun. Tetapi, sampai kini nama keduanya belum terpatri dalam plakat fasilitas umum apa pun. ‘’Padahal, layak diabadikan sebagai nama jalan atau nama GOR,’’ imbuhnya.

Tokoh lainnya, Adjar menyebutkan Sentot Prawirodirjo, senopati perang Pangeran Diponegoro. Tokoh itu merupakan putra hasil perkawinan Ronggo Prawirodirjo III, bupati Madiun, dengan putri Kota Madiun. Diperkirakan senopati perang itu pernah tinggal di dalem. ‘’Antara Keraton Maospati atau Wonosari, senopati itu besar di situ,’’ terangnya.

Tidak ada bukti sejarah atau peninggalan pasti tentang senopati yang terkenal setia mengawal Pangeran Diponegoro itu. Sentot Prawirodirjo wafat dan dimakamkan di Bengkulu 1855 silam. ‘’Selama ini namanya belum tercantum,’’ imbuh Adjar.

Terpenting, tegas dia, dalam membangun branding, seluruh stakeholder dilibatkan. Baik dari kalangan seniman, budayawan, tokoh masyarakat, hingga pemerhati sejarah. HVM sendiri sampai kini belum pernah diajak rembukan. Pemasangan plakat nama pada 18 cagar budaya di Kota Madiun juga harus mengedepankan kearifan lokal. Menyusul ketersediaan sarana transportasi untuk menuju destinasi wisata budaya tersebut. ‘’Hal-hal seperti ini yang turut memajukan Kota Madiun,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Seribu Bunga Wakili Semua Ikon Kota

KOTA Pendekar akronim dari pintar, melayani, membangun, peduli, terbuka, dan karismatik. Tak sedikit yang beranggapan, penamaan dari konsep Panca Karya itu telah menjadi ikon Kota Madiun.

Dimas Putra Agung Mahardika, anggota Dewan Kesenian Kota Madiun, mengungkapkan bahwa hal itu wajar. Sebab, publikasi tentang Kota Pendekar semakin gencar. Seolah menenggelamkan city branding Kota Karismatik. ‘’Ada plus dan minusnya. Kota Pendekar sudah menggaung, karena itu proker beliau (Maidi, Red),’’ kata Dimas.

Pihaknya berharap di kepemimpinan yang baru ini membawa warna tersendiri. Salah satunya menata ulang dan membangun city branding baru atau melanjutkan konsep lama. ‘’Ikon Kota Pendekar ada plus dan minusnya. Meskipun itu akronim dari Panca Karya, ada kata-kata yang bisa dipilih dan secara filosofi artinya lebih mengena,’’ paparnya.

Menurut Dimas, Kota Seribu Bunga pantas menjadi alternatif jika ingin melekatkan ikon baru. Bunga identik dengan warna-warni, mekar, indah, wangi, dan sedap dipandang. Secara filosofi karakter bunga itu merupakan lambang untuk menggambarkan seisi Kota Madiun. ‘’Pengemasannya yang lebih terarah,’’ ujarnya.

Dalam konsep tersebut terkandung berbagai bidang. Mulai ekonomi, budaya, pencak silat dan tariannya, politik, wisata, dan berbagai bidang lain. Harapannya, pembangunan di segala lini tersebut hasilnya seperti makna yang diidentikkan dengan bunga. ‘’Muaranya nanti ke sana. Memang harus memulai dari nol. Karena sudah ada visi-misi yang sudah disepakati, tinggal menyesuaikan saja,’’ tuturnya.

Berbagai ikon mulai Gadis, Bangkit, Pecel, hingga Sepur perlu dikaji mendalam. Agar ke depan tidak menimbulkan polemik. ‘’Apakah dilebur atau tetap dilestarikan untuk mengenang jasa pemimpin terdahulu,’’ katanya.

Menurut Dimas, jika ada kata-kata lain untuk branding baru yang lebih pantas, tidak menjadi masalah. Asalkan konsepnya dikemas matang. Tak kalah pentingnya penerapannya sesuai harapan. ‘’Untuk Kota Madiun yang lebih baik, it’s ok, kenapa tidak?’’ ucapnya.

Konsep city branding memang menjadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan yang baru. Jika untuk Kota Madiun yang lebih baik, tentu tidak berlebihan. Keberadaan seni tari dalam membuat city branding juga perlu dipikirkan. Sampai kini, masih menjadi polemik di kalangan seniman dan belum menemukan jalan terang. ‘’Harapannya tetap ada tari khas Kota Madiun yang menjadi bagian dari branding,’’ tegasnya.

Tari Bedoyo Madiun, misalnya. Itu bisa dijadikan alternatif ikon seni. Tari Bedoyo merupakan tarian untuk penyambutan tamu dalam sebuah acara. ‘’Sudah berbagai upaya kami lakukan tapi belum mendapat hasil. Tari Bedoyo Madiun masih mengambang, belum mendapat pengakuan,’’ katanya. (kid/c1/fin) 

Ternyata, Pendekar Kependekan dari…

OPO jare sing mbaurekso. Apa kata penguasa. Begitu kira-kira terjemahan bahasa Indonesianya. Ungkapan ini layak disandang Kota Madiun. Betapa tidak, nyaris setiap pergantian penguasa (wali kota), city branding-nya pun berubah. Dari Madiun Bangkit, Madiun Kota Gadis, Madiun Kota Pecel, dan Madiun Karismatik. Terkini Madiun Kota Pendekar.

Sejatinya, muaranya sama. Agar Kota Madiun lebih dikenal. Lebih dilirik investor. Lebih mampu menyediakan lapangan kerja. Dan lebih bergairah perputaran roda ekonominya. Dalam konteks ini, city branding dianggap penting.

Dari pandangan Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Madiun Ngedi Trisno Yhusianto, ada dua branding. Yakni, city branding dan major branding. Untuk city branding, Kota Madiun lebih dikenal sebagai Kota Pecel. Sekalipun Kota Karismatik tahun lalu sudah ditetapkan sebagai city branding. ‘’Kalau major branding berdasarkan visi dan misi wali kota. Seperti halnya Madiun Kota Pendekar,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun kemarin (3/9).

Pendekar merupakan kependekan dari beberapa program Panca Karya Wali Kota Maidi. Sehingga, tidak bisa disamakan dengan konteks city branding. Harapannya, sebutan Kota Pendekar untuk memudahkan masyarakat mengingat visi-misi wali kota. ‘’Jadi, kalau bicara city branding, ya Kota Pecel,’’ sebutnya.

Hal sama pernah dilakukan Bambang Pamoedjo, wali kota Madiun 1994–1999. Dia memperkenalkan semboyan Madiun Bangkit dalam visi-misinya. Singkatan dari Bersih, Aman, Nyaman, Gagah, Kuat, Indah, dan Tenteram.

Lalu, di era Wali Kota Ahmad Ali (1999–2009) dikenalkan Madiun sebagai Kota Gadis. Bukan dalam arti perempuan. Tetapi, akronim dari perdagangan, pendidikan dan industri. Sesuai potensi Kota Madiun. Saat itu perdagangan di Kota Madiun sedang tumbuh. Pun industri kereta api (INKA) mulai berkembang. Bidang pendidikan jadi fokus utama program peningkatan kualitas SDM.

Sedangkan, julukan Madiun Kota Pecel dipopulerkan kepada masyarakat karena daerah ini punya kuliner khas pecel yang sudah terkenal. Terbaru, Kota Karismatik. Tagline ini diperkenalkan Wali Kota Sugeng Rismiyanto yang menggantikan Bambang Irianto pada Januari 2018 lalu.

Saat itu, menurut Sugeng, brand tersebut lebih mudah diingat. Di dalamnya mewakili berbagai unsur. Mulai kuliner, seni, budaya, wisata, dan pelayanan publik. Harapannya, dapat mengangkat daya tarik dan nilai jual daerah kepada investor. Baik sektor pariwisata maupun industri. Implikasinya, terbuka peluang kerja baru, perekonomian meningkat, dan sebagainya.

Sementara Wali Kota Madiun Maidi menjelaskan, Madiun Kota Pendekar merupakan kependekan visi-misinya selama 2019–2024. Yaitu, pintar, melayani, membangun, peduli, dan karismatik. Di sisi lain, terdapat beberapa perguruan pencak silat di Kota Madiun. Sehingga, kental aroma pendekar. ‘’Kota Madiun dikenal dengan seni pencak silatnya. Jadi, banyak pendekar di sini,’’ ungkap Maidi.

Kota Pendekar lebih menonjolkan seni dan budaya sebagai ikon pariwisata Kota Madiun. ‘’Jadi, tidak hanya mewakili masyarakat Kota Madiun, tapi juga harus menarik perhatian warga luar kota. Ini penting agar tujuan branding dapat dicapai maksimal dan optimal,’’ jelasnya. (her/c1/sat)

Kota Karismatik Dilegalkan Perwal

DARI sekian banyak city branding yang dikenalkan Pemkot Madiun, Kota Karismatik salah satu yang paten. Sebab, sudah dilegalkan dengan Peraturan Wali Kota (Perwal) 52/2018. Logo city branding itu untuk memberi identitas visual yang menggambarkan kekhasan, potensi, sejarah, karakter, dan budaya daerah.

Tujuannya, mempromosikan  potensi dan memberi citra positif wali kota. Serta untuk meningkatkan kemampuan daerah agar dapat bersaing dan berkompetisi dengan daerah lain. Terutama dalam mengembangkan potensi dan kunjungan wisata.

Harimau, banteng, hingga pencak silat sempat mengemuka dalam riset pemkot untuk logo Kota Karismatik. Itu dinilai mewakili kultur Kota Madiun. Logo mata harimau dipilih dengan corak berwarna kuning dan hijau di sekitarnya.

Kuning mewakili sifat lembut namun berani. Sedang, hijau religius. Wali Kota Madiun Maidi menyebut pemilihan brand belum final. Saran dan masukan dari pihak terkait bakal jadi pertimbangan. Selain itu, brand Kota Gadis tidak akan dihilangkan. Namun, saling melengkapi. ‘’Saya berharap brand memberi warna dan semangat baru. Baik masyarakat maupun pemerintahnya,’’ katanya.

Dia menyebut bahwa brand penting. Sehingga, sebuah daerah harus punya. Selain sebagai ciri, brand memudahkan masyarakat luas mengingat suatu daerah. ‘’Di Kota Madiun, kata karismatik dinilai sudah mewakili segala unsur. Karismatik mewakili kekayaan sumber daya manusia yang memiliki kepercayaan diri, lembut, kuat, berani, juga tegas,’’ jelas Maidi. (her/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button