Madiun

Full Color City

Penulis adalah Walikota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

TULISAN saya ini masih berkaitan dengan yang lalu. Yang sejuta bunga sepanjang masa itu. Bukan edisi kemarin. Tapi yang kemarinnya lagi. Waktu itu saya menulis tentang taman-taman bunga di kota kita.

Penanaman sebagian bunga sedang dikerjakan. Seperti di lokasi wisata baru yang menggunakan lahan aset PDAM itu. Sebagian lain, menunggu musim penghujan. Mengapa? Tentu agar peluang hidup semakin besar. Kedua, karena sebagian bunga yang akan ditanam berjenis pohon besar.

Ditanam langsung saat sudah besar. Untuk pengganti pohon-pohon besar di pinggir jalan protokol. Sebagian memang ditebangi. Banyak yang protes. Saya biarkan. Karena mungkin mereka belum tahu kalau pohon-pohon besar itu telah rapuh.

Memang tidak kelihatan secara fisik dari luar. Tetapi, nyatanya berlubang di dalam. Ini bisa menjadi bom waktu. Bisa roboh sewaktu-waktu. Kemungkinan itu semakin besar saat penghujan nanti. Penebangan ini juga bisa disebut langkah pencegahan.

Makanya, pohon pengganti yang akan ditanam juga harus besar. Tentu tidak sebesar yang ditebang. Paling tidak sudah berdaun rindang. Pohon pengganti itu juga ada syarat lain. Harus pohon berbunga. Saya sudah meminta tim mencari jenis-jenis pohon berbunga yang cocok dengan kondisi Kota Madiun.

Sementara, ketemu 14 jenis. Yakni, pohon bungur atau ketangi yang berbunga ungu atau pink, tabebuya kuning dan pink, cempaka putih atau kantil, kenanga, flamboyan ungu, pohon sapu tangan, tengguli atau kayu raja, jacaranda, pohan johar atau senna saimea, pohon tulip afrika, tanaman tibouchina, peltophorum, dan nusa indah.

Pohon-pohon itu bisa tumbuh besar. Bisa memiliki batang ukuran badan orang dewasa. Bahkan, lebih. Daunnya, jangan ditanya. Sudah pasti lebat dan rindang. Fungsi peneduh terpenuhi. Kelebihannya, ada fungsi estetika. Karena berbunga pasti lebih indah di mata. Warna-warni pula.

Saya sengaja minta dicarikan jenis pohon berbunga yang beragam. Dan yang terpenting, pohon-pohon ini tidak berbunga bersamaan. Namun, bergantian. Seperti buah musiman. Kadang musim durian, kadang musim mangga. Ada juga yang terus berbuah tanpa mengenal musim. Pohon bunga yang ditanam nanti juga seperti itu. Terus ada yang berbunga sepanjang tahun. Sejuta bunga sepanjang masa tadi.

Ini cukup mungkin diwujudkan. Apalagi, negara kita berada di kawasan tropis. Lebih banyak jenis pohon yang bisa tumbuh. Tidak seperti di Jepang dengan bunga sakuranya. Keindahan negara matahari terbit itu lebih maksimal saat musim semi. Saat bunga sakura tengah mekar-mekarnya.

Saya ingin ada banyak jenis pohon bunga di Kota Madiun agar tidak indah di waktu tertentu. Tetapi indah setiap musim dan setiap bulan. Harapannya, kunjungan wisatawan berkelanjutan silih berganti. Atau paling tidak mereka terkesan saat berkunjung di kota kita ini. Terkesan karena bunga-bunganya.

Bunga saja tentu tidak cukup. Apalagi, saat musim kemarau. Beberapa jenis pohon memang dapat berbunga saat kemarau. Tetapi mungkin kurang maksimal. Karenanya butuh alternatif lain. Saya berangan, gedung-gedung di kota kita juga berwarna-warni. Pemerintah sudah memulai. Setiap pembatas median jalan sudah berwarna-warni kini. Sejumlah fasilitas umum seperti stadion dan gor juga sudah di cat ulang. Pohon-pohon besar juga telah dicat. Minimal tiga warna. Kalau ditotal sudah habis dua ton cat sampai saat ini.

Tetapi, saya rasa masih kurang. Belum terlihat warna-warni maksimal. Belum seperti kampung pelangi di beberapa daerah dan sejumlah negara. Itu karena masyarakatnya terlibat. Masyarakat juga mengecat ulang dinding rumah masing-masing dengan cat warna-warni. Kota Madiun juga bisa seperti itu. Saya tahu di beberapa gang sudah penuh dengan warna. Mulai jalan hingga dindingnya. Ada juga yang dihias mural. Tiga dimensi pula.

Keterlibatan masyarakat memang belum maksimal. Belum semuanya terlibat. Mungkin butuh satu penegasan. Saya berencana membuat peraturan walikota terkait itu. Masyarakat yang tengah membangun wajib mengecat bangunannya warna-warni. Minimal tiga warna. Namun, ini masih rencana. Saya ingin lihat dulu antusiasme masyarakat.

Tatkala ini jalan, saya optimis Kota Madiun bisa jadi satu-satunya kota di dunia ini yang penuh warna. Istilah kerennya full color city. Baik dari alamnya maupun bangunan gedungnya. Paling tidak dua tahun ke depan. Tunggu bunga-bunganya lengkap dan sudah bermekaran semua. Tunggu gedung dan bangunan di Kota Pendekar sudah dicat ulang semua. Istilah anak mudanya, akan indah pada waktunya. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button