Madiun

Flu Biasa Disangka Korona, Pasien dan Istrinya Sempat Dikarantina RSU Santa Clara

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Putri (bukan nama sebenarnya), warga Mojopurno, Wungu, Kabupaten Madiun, terkejut bukan kepalang saat dicurigai suspect korona. Dia yang baru datang dari Bali Kamis pagi lalu (12/3) harus dikenakan alat pelindung diri (APD) lengkap dengan masker N95. Bersama Putra (bukan nama sebenarnya), suaminya, yang sehari sebelumnya telah masuk RS Santa Clara, Kota Madiun, karena saraf kecetit.

Putri yang tidak mengeluh sakit apa pun tidak boleh keluar dari ruang perawatan suaminya. Sampai dia merasakan kelaparan lantaran tidak diizinkan keluar ruangan. Suaminya yang terbaring di tempat tidur rumah sakit sempat syok lantaran mendengar kabar itu. ‘’Ceritanya, suami saya pulang duluan dari Bali,’’ kata Putri.

Putri membeberkan, suaminya kecetit setelah pulang dari Bali. Suaminya langsung diantarkan anaknya ke RSU Santa Clara. Kebetulan saat itu yang mendaftarkan anaknya yang ber-KTP Bali. Semula, suaminya mendapatkan pelayanan normal. ‘’Karena dikabari kalau suami saya dirawat, saya dari Bali balik ke Madiun esok paginya,’’ lanjut Putri.

Malam harinya, tiba-tiba dia dan suaminya diminta suster untuk mengenakan APD. Pun, tidak boleh keluar ruangan. Alasannya, dicurigai sebagai suspect korona. Memang, malam itu suaminya sempat mengalami gangguan pernapasan. ‘’Tapi karena debu di ruangan. Mungkin AC-nya tidak pernah dibersihkan,’’ duganya.

Setelah dipindah ke ruangan lain, gangguan napas yang dialami suaminya hilang. Karena itu, Putri ingin kepastian dari pihak rumah sakit mengapa dia dan suaminya tidak boleh keluar ruangan. Apalagi beberapa suster menyebut dia dan suaminya suspect korona. ‘’Atas dasar apa? Karena flu atau dari Bali?’’ tanyanya.

Putri sempat protes karena merasa divonis suspect korona tanpa dasar. Saat itu pula, sempat terlintas di benaknya mengapa tidak dirujuk ke rumah sakit khusus yang ditunjuk menangani korona. ‘’Kaget. Orang normal dengar korona saja sudah takut, apalagi kalau tiba-tiba dicap suspect tanpa dasar pemeriksaan yang jelas,’’ ungkapnya.

Putri semakin khawatir karena tensi darah suaminya meningkat setelah mendengar hal itu. Dia mencoba bertanya kembali kepada pihak rumah sakit. Barulah kemarin siang (13/3) Putri diizinkan melepas APD dan keluar ruangan. ‘’Baru ini saya bisa keluar sejak tadi malam. Dibrongsong pakaiannya. Maskernya beda, lebih rapat,’’ tuturnya.

Jika memang ada gejala klinis yang merujuk ke suspect korona, Putri berharap pihak rumah sakit sigap merujuknya. ‘’Ke depan kalau memang dicurigai itu cepat dan sigap, tidak panik,’’ tambahnya.

Menanggapi itu, Humas RSU Santa Clara Fransisca Zuther Sustriana menjelaskan bahwa langkah yang telah dilakukan untuk antisipasi. Sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Dia pun meluruskan bahwa sebenarnya kedua pasien terkait tidaklah dikarantina atau diisolasi. ‘’Kami mewaspadai, jadi kami bersikap waspada,’’ kata Sisca.

Sisca pun membenarkan bila pasien dirawat bukan karena gejala yang merujuk pada korona. Namun, pasien mengalami batuk dan flu. Karena itu, pasien dan istrinya dilengkapi APD, termasuk perawat yang menanganinya. ‘’Perawat mestinya memakai APD, itu SOP kami,’’ lanjutnya.

Sisca memastikan pasien terkait sudah diperbolehkan keluar ruangan keesokan harinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait dugaan suspect korona tersebut. ‘’Baru ini kami tangani. Ini murni karena kewaspadaan rumah sakit kami,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button