features

Fitra Adi Wibowo Sukacita Emban Tugas Mulia

Biasa Tiduran di Makam Tunggu Jenazah Datang

Baru beranjak dewasa, Fitra Adi Wibowo sudah bertaruh nyali menjadi garda terdepan penanggulangan korona. Pelajar 18 tahun itu bersukacita menjadi petugas pemakaman pasien Covid-19.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

INFORMASI kedatangan jenazah pasien Covid-19 sekitar pukul 11.30 di tempat pemakaman umum (TPU) Winongo kala itu mengundang kepanikan. Modin yang biasa mengimami salat jenazah, tak bisa datang. Pun, tak ada satu pun yang berani menggantikannya menjadikan imam. Semua orang saling tunjuk sampai jenazah tiba di pemakaman. Tanpa diminta, seketika itu Fitra Adi Wibowo mengajukan diri menjadi imam sekaligus mengazani dan mendoakan. ‘’Saya mulai bergabung jadi petugas pemakaman sejak bergabung PMI (Palang Merah Indonesia) Agustus 2020,’’ ujar Bowo, sapaan Fitra Adi Wibowo.

Dia pun langsung mengiyakan saat ditawari menjadi petugas pemakaman. Segala risiko membahayakan di depan mata tak ada artinya. Baginya, tugas mulia itu merupakan ladang untuk mencari pahala. ‘’Awal-awal dulu ya merasa takut, tapi seiring perjalanan waktu jadi terbiasa. Ini panggilan hati untuk membantu saudara kita yang tertimpa musibah,’’ kata petugas termuda di PMI Kota Madiun itu.
Enam bulan menjadi petugas pemakaman bukanlah hal mudah. Setiap prosesi pemakaman, Bowo wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Mulai dari hazmat, kacamata goggle, pelindung kepala, sarung tangan, sepatu boots, hingga face shield. Tak lupa, masker N95 dilapisi masker medis. ‘’Saya harus siaga 24 jam. Dapat panggilan jam dua belas malam sampai dini hari itu sudah biasa,’’ tutur remaja yang tinggal di Jalan Trengguli, Oro-Oro Ombo, Kartoharjo, itu.

Bowo selalu meyakinkan diri setiap hendak mengebumikan jenazah pasien Covid-19. Kondisi peti dipastikan sudah steril. Keluarga sangat mendukung misi kemanusiaan yang dilakoni pelajar kelas XII SMKN 1 Madiun itu. ‘’Kalau kebetulan yang meninggal banyak, istirahat sekalian di makam. Pernah sehari memakamkan sembilan jenazah,’’ ungkapnya.

Pelajar jurusan teknik listrik itu tak lupa mengerjakan setiap tugas sekolah di masa pembelajaran dalam jaringan (daring) ini. Putra pasangan Agus Riyadi dan Sri Widayati itu tak kesulitan mengikuti pelajaran di sekolahnya. Dia pun bersyukur tugas yang dijalani tak membuatnya dikucilkan lingkungan. ‘’Sebelum pulang sterilisasi diri dulu. Setelah yakin aman, baru sepeda motoran ke rumah. Terkadang tiduran di markas, apalagi pas hujan deras,’’ ucapnya. *(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button