Madiun

Fira Fitria, Sosok Inspiratif Kalangan Penyandang Disabilitas

Sebulan di Amerika, Terkesan Cara Pandang Masyarakat Setempat

Keterbatasan fisik tidak membuat Fira Fitria tergantung kepada orang lain. Sebaliknya, perempuan itu kini menjadi sosok inspiratif di kalangan para penyandang disabilitas. Bahkan, beberapa bulan lalu dia terbang ke Amerika mengikuti sebuah program internasional.

——————————

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SEKITAR 20 orang siang itu memadati sekretariat Komunitas Orang Tua Spesial (KOTS) Kota Madiun di Jalan Bulu Mas, Kelurahan Kanigoro, Kartoharjo. Mereka tampak antusias mengikuti acara bertajuk Ngobrol Bareng Mbak Fira, Difabel Go International. ”Mohon maaf sebesar-besarnya. Keponakan saya mabuk kendaraan saat perjalanan tadi, sehingga acara agak molor,” ujar Fira Fitria membuka pembicaraan.

KOTS Kota Madiun sengaja mengundang Fira untuk memotivasi anggota komunitas tersebut. Apalagi, perempuan asal Tuban itu baru saja pulang dari Amerika Serikat mengikuti program International Visitor Leader Proggresif (IVLP) lalu. ”Agar tidak terkesan formal, kita ngobrol santai saja nggih,’’ katanya.

Fira berada di Negeri Paman Sam sekitar sebulan, tepatnya November-Desember lalu. Pun, dia terkesan dengan cara pandang masyarakat setempat terhadap para penyandang disabilitas. Mereka memberi akses dan kesempatan bagi para difabel untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

”Stigma di masyarakat kita hingga saat ini, difabel itu merupakan aib, sering merepotkan orang lain, dan sebagainya,” tutur perempuan yang mendapatkan beasiswa magister dari Pemerintah Jepang di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Namun, bagi Fira, bukan hal mustahil mengubah cara pandang itu. Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah memberi pemahaman terhadap keluarga dan lingkungan sekitar. ”Kalau cara pandangnya sudah berubah, ketersediaan akses terhadap penyandang difabel akan mengikuti,” terangnya.

Fira sendiri merupakan penyandang celebral palcy. Dia sempat putus asa usai sang ibu pergi untuk selamanya pada 2014 lalu. Pun, ketakutan akan hidup sendirian dan ketidakmapanan ekonomi menghatuinya kala itu. Pertemuannya dengan salah seorang aktifis difabel menjadi titik balik untuk berubah dan bangkit. ”Setelah itu saya bercita-cita bisa bermanfaat bagi orang lain, khususnya para penyandang difabel,” ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button