Madiun

Festival Tahun Baru Imlek Dipusatkan Jalan Batanghari

SEMANGAT PEMBAURAN DI KAMPUNG PECINAN

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Toleransi antarumat beragama telah diwujudkan warga Kota Madiun di kampung pecinan. Kampung peranakan Tionghoa itu tersebar di sekitaran Jalan Batanghari, Barito, Agus Salim, dan sekitarnya. Semangat pembauran itu terus dilanggengkan sampai sekarang.

Sesepuh Tionghoa Agus Hartono mengungkapkan, kampung di sederet jalan itu merupakan titik kumpul warga etnis Tionghoa. Titik itu sekaligus menjadi pusat kegiatan sosial dengan berbagai etnis. ‘’Tidak hanya interaksi dengan warga sesama Tionghoa, tapi juga dengan warga asli,’’ kata Agus.

Keberadaan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hwie Ing Kiong di Jalan Cokroaminoto sekitar 50 meter dari perkampungan itu menjadi penguat. Kelenteng yang diresmikan sekitar 1897 itu sekaligus menandakan keberadaan etnis Tionghoa di kota setempat. Mereka memiliki tempat ibadah yang hingga kini masih lestari. ‘’Menghormati orang tua itu selalu diajarkan oleh pendahulu kami,’’ lanjut kakek 80 tahun itu.

Tempat suci bagi warga Tionghoa itu dibangun dengan spirit kebersamaan. Termasuk kemudian mendirikan Chung Hwa Sie Siauw (CHSS) yang sekarang digunakan SMPN 6 Kota Madiun. Sekolah yang dibangun dengan cara swadaya itu didirikan persis di depan kelenteng. Menegaskan pemilihan tata letak yang strategis karena tidak jauh dari perkampungan.

Sayangnya, sekolah itu kini tinggal cerita. Peristiwa kelam G30S/PKI 1965 silam mengakhiri riwayatnya. Ketika itu pemerintah melalui tangan militer menutup operasional seluruh sekolah China di penjuru tanah air, tak terkecuali CHSS di kota setempat.

Perkampungan itu juga menjadi pusat usaha bagi warga etnis Tionghoa. Sebab, mereka masuk ke Indonesia melalui pintu perdagangan. Sejarah mencatat masuknya etnis Tionghoa besar-besaran ke Indonesia sekitar 1870 silam. Ketika itu pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan untuk orang asing. Etnis Tionghoa membuka usaha dan berinvestasi melalui politik ekonomi liberal. Spirit toleransi antarumat beragama itu pula yang dibawa sejak ratusan tahun lalu. Berjalan mengalir seperti air, menjadi prinsip hidup mereka. ‘’Semua kalangan Tionghoa membaur jadi satu,’’ ujarnya.

Iringan Barongsai dari Jalan Merpati ke Batanghari

Hari ini (22/1) untuk pertama kalinya Pemkot Madiun menggelar perayaan Imlek di kota setempat. Acara bertajuk Peceland Chinese New Year Festival itu digelar selama lima hari ke depan. Perhelatan yang digawangi Dinas Kominfo Kota Madiun itu bakal diramaikan beragam kegiatan. ‘’Mulai barongsai, dance, live music, hingga bazar,’’ kata Kepala Diskominfo Kota Madiun Subakri.

Seluruh persiapan telah dimatangkan. Melalui hasil rapat koordinasi final bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan paguyuban warga Tionghoa yang menjadi panitia pelaksana. ‘’Acara dibuka mulai pukul 16.00 sampai 22.00 mulai besok (hari ini, Red) hingga tanggal 26 Januari mendatang,’’ tuturnya.

Perhelatan itu dibuka langsung Wali Kota Madiun Maidi. Pejabat asal Magetan itu bakal diarak dari kediamannya di Jalan Merpati menuju Jalan Batanghari diiringi barongsai. Festival ini tidak dibuka untuk umum. ‘’Karena beliau (Maidi, Red) concern menanamkan toleransi antarumat beragama,’’ jelasnya.

Semula, acara itu digelar di Jalan Cokroaminoto. Namun, dengan berbagai pertimbangan akhirnya dipindahkan ke Jalan Batanghari. Selain di situ merupakan perkampungan pecinan hingga Jalan Barito. ‘’Karena baru pertama kalinya, ini menjadi pembuktian untuk acara di tahun mendatang,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close