Madiun

Ferinanto, Legenda Hidup Balap Sepeda Asal Kota Madiun

Nama Ferinanto tidak asing di dunia balap sepeda. Bagaimana tidak, dia salah satu pembalap andalan Indonesia. Prestasinya sudah tidak bisa dihitung dengan jari. Ratusan medali berhasil dikumpulkan selama menjadi atlet sepeda.

——————–

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

DUA puluh tujuh tahun silam nama Ferinanto menjadi buah bibir di dunia sepeda nasional. Bagaimana tidak, dia yang saat itu baru menginjakkan kakinya di kelas satu SMP mampu menjuarai beberapa event balap sepeda. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung langganan menjadi juara. ’’Mulai tahun 1992,’’ kenang pria yang kini berusia 42 tahun itu.

Berawal ketika melihat orang-orang sedang balap sepeda, dia ikut-ikut mengayuh sepedanya dengan kencang dan sampai ke finis. Semenjak itu dia diajak untuk ikut bersepeda dengan komunitas pesepeda di Kota Madiun. ‘’Sering diajak bersepeda ke Dungus. Orang-orang kaget kok saya kuat,’’ kenangnya.

Mulai saat itu dia diajak latihan. Yakni dua kali dalam sepekan. Dua bulan kemudian, Ferinanto mengikuti lomba pertama. Balap sepeda se-Kota Madiun. ’’Start di depan SMAN 1 Madiun, finis di bumi perkemahan (Kresek),’’ ujarnya sembari menyebut dirinya dipinjami sepeda oleh pemilik salah satu dealer motor di Kota Madiun.

Tak disangka, dia berhasil mendapat juara 2. Sejak itu, dia terus diajak berlatih dengan komunitas itu. diajarkan ilmu dasar sepeda. Mulai dari cara memindah gigi, cara menggenjot sepeda ketika melewati jalanan tertentu. ’’Saya latihannya jadi empat sampai lima kali dalam seminggu. Sebulan kemudian, berangkat balapan lagi di Malang, juara satu,’’ ujarnya.

Prestasinya kian melejit. Yakni dia mulai juara di tingkat nasional. Di Surabaya dan Jakarta. Nama Madiun saat itu semakin bersinar. Bagaimana tidak, juara satu dan duanya sama-sama berasal dari kota pecel itu. ’’Saya dan Frani Kristianto,’’ kenangnya.

Karirnya di dunia sepeda kian bersinar kala memenangi kejuraan nasional (kejurnas) di Malang. Feri mampu meraih dua kemenangan. Yakni, di tingkat junior juara 1,  dan tingkat senior juara 3. ’’Saat itu meskipun masih junior diperbolehkan ikut kelas senior,’’ katanya.

Dia kemudian mendapat tawaran untuk bergabung dengan tim Panasonic, Jakarta. Tim yang kesohor banyak menelurkan atlet-atlet balap sepeda nasional. Semua fasilitas diberi. Mulai gaji, sepeda, dan alat-alat penunjang sepeda lainnya. ’’Disana saya diberi program latihan, sebulan di Jakarta, terus balik ke Madiun latihan sendiri di Madiun. Saya masih SMP kelas 3,’’ katanya.

Di tahun 1993, Feri mendapat kesempatan balapan di Singapura. Tim Panasonic berlaga di event internasional itu. Perjuangannya membuahkan hasil. Feri menyabet juara 1. Di tahun yang sama banyak event balap sepeda digelar. Nyaris setiap minggu. ’’Kalau yang di Singapura itu pertama kali juara 1 di luar negeri,’’ jelasnya.

Setelah di Singapura, Feri menyabet prestasi lagi saat bertarung di Australia. Namun masih juara 3. Prestasinya terus berkembang. Kemampuanya terus bertambah. Semangatnya juga kian menggebu. Di balapan tingkat nasional, dia terus menduduki peringkat satu di junior maupun senior. Akhirnya dia tidak diperbolehkan lagi untuk mengikuti balap sepeda tingkat junior. ’’Baru mau SMA waktu itu, tapi disuruh ikutnya yang kelas senior,’’ katanya.

Latihannya semakin menggila. Dua kali sehari. Pagi sebelum berangkat sekolah, dan sore setelah pulang sekolah. ‘’Jam 05.00 sampai 06.30, terus sekolah. Pulangnya siang, sorenya latihan lagi,’’ katanya.

Kemampuan yang dimilikinya terus berkembang lagi. Pada PON tahun 1996 hingga 2012 lalu dia masih menyumbangkan medali untuk Jawa Timur. Tidak hanya satu, namun dua hingga empat medali. ’’Emas terus sampai terakhir PON 2012 saya agak menurun, dapat satu emas dan perak,’’ katanya.

Tidak hanya tingkat nasional, di Sea Games Ferinanto langganan juara. Yakni mulai tahun 1997 hingga tahun 2005, dia selalu menyumbang medali emas untuk Indonesia. Masih lekat diingatannya, dia harus bolak balik Indonesia Jepang karena ujian kelulusan. ‘’Saya pulang saat Ebtanas saja saat itu, habis itu balik lagi kesana,’’ kata raja sprinter Indonesia itu.

Ferinanto bahkan memecahkan rekor. Memenangi empat etape berturut dalam Tour de Indonesia sejak tahun 2004. Total sembilan etape. ’’Total menang 5 etape, Menang etape ke-3, kemudian menang berturut-turut etape 5,6,7,8.’’ Katanya sembari menyebut rutenya saat itu dari Jakarta ke Denpasar, Bali.

Di tahun 2008, berkat prestasinya, dia mendapat penghargaan dari menteri. Yakni menjadi pegawai negeri di dinas pemuda dan keolahragaan Jawa Timur. Dan saat itu dirinya masih menjadi atlet. ‘’Tahun 2016 baru saya terjun melatih dan sudah tidak ikut PON lagi,’’ ujar pria yang mengikuti kursus kepelatihan di Korea itu.

Lantas, pengalaman paling berkesan? Ferinanto secara cepat menyebut Sea Games di Vietnam. Saat itu dia jatuh sampai terseret. Kemudian dia terluka parah, sepedanya rusak, sepatu rusak. Tetapi berhubung sistem penilaianmemakai point race dia terus berusaha untuk menyelesaikan. ’’Sayang kalau tidak diteruskan saat itu saya sudah didepan, tinggal sedikit lagi saya dapat emas,’’ kenangnya.

Sepedanya diperbaiki oleh tim official. Kemudian dia melanjutkan balapannya yang sudah ketinggalan lima lap itu dan mengabaikan luka parah di bagian pantat dan kaki sebelah kanannya. ’’Saya berhasil mengejar saat itu setelah kurang satu lap, dan alhamdulillah akhirnya berhasil,’’ katanya sembari menyebut setelah sampai finis dirinya langsung tepar.

Harapannya saat ini, dia ingin di Kota Madiun muncul lagi para pembalap sepeda yang unggul seperti pada masa jayanya dulu. Dengan modal pengalaman, dia siap membantu anak-anak muda untuk berprestasi. Khususnya peran ISSI Kota Madiun yang sekarang dinakhodai Aris Sudanang. ‘’Sepertinya pemerintah sekarang lebih perhatian. Mungkin bisa sering mengadakan lomba lokalan sepeda di Madiun lagi, supaya bisa memacu semangat anak-anak untuk berprestasi,’’ katanya.*****(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close