Pacitan

Faza Rohani, Guru Bahasa Arab yang Sukses Geluti Usaha Pigura Custom

Belajar dari rekannya semasa kuliah, Faza Rohani memulai usaha pembuatan pigura custom. Hasilnya, kesuksesan pun diraih. Apalagi, dia satu-satunya pebisnis pigura ini di Pacitan.

——————–

SUGENG DWI, Pacitan

BERAGAM pigura dipajang di toko Muhammad Faza Rozani. Ada yang berukuran ekstrajumbo. Ada yang saling tumpuk. Berukir dengan warna-warni indah. Mirip kayu. Siapa sangka, ternyata terbuat dari fiberglass. ‘’Sekarang sudah jarang yang pakai kayu karena harganya lebih mahal dan sulit cari bahannya,’’ ujar Faza, sapaan akrab pengusaha pigura di perempatan Cuik, Sidoharjo, Pacitan, ini.

Menggeluti bisnis bingkai foto lebih dari tiga tahun, warga lingkungan Krajan Lor, Ploso, ini ternyata satu-satunya pengusaha pigura custom di Pacitan. Terkesan dengan bisnis serupa milik rekan kuliahnya di Jogjakarta yang berkembang pesat hingga bercabang. Faza mulai mengadopsi usaha tersebut di kota kelahirannya 2015 lalu. Modal nekat dan minim pengalaman ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat. ‘’Banyak yang pesan. Sekolah-sekolah, perusahaan, bahkan Pak In (Bupati Pacitan Indartato, Red) sering pesan di sini,’’ ungkapnya.

Memulai bisnis tanpa latar belakang mumpuni, aji mumpung dan pengalaman membantu rekannya semasa kuliah jadi landasan Faza memulai bisnisnya. Sempat kesulitan di awal usaha, guru bahasa Arab MTs Pacitan itu memanfaatkan YouTube. Lambat laun, seiring bertambahnya peralatan dan pengalaman, kepiawaiannya merangkai pigura makin terasah. ‘’Sekarang sudah punya karyawan yang jurusannya cocok. Jadi, sekali diajari sekarang sudah jago,’’ ungkap alumnus UIN Jogjakarta itu.

Pada awal buka usaha, Faza harus bolak-balik Pacitan-Ponorogo setiap bulan untuk beli bahan. Beragam model dan tipe dicocokkan dengan tren di Pacitan agar usahanya terus berjalan. Kini omzetnya Rp 20 juta per bulan. Beragam bahan dikirim ke tokonya. ‘’Kaligrafi juga beli mentahan dan nanti kita frame di sini, termasuk lukisan kita ambil dari Bandung,’’ jelas pria kelahiran 23 Mei 1986 itu.

Pada bulan-bulan tertentu, seperti Syawal atau Ramadan, penjualan bingkai fotonya meningkat pesat. Bahkan perkembangan zaman juga memaksa bapak satu anak ini belajar membuat pigura 3D yang tengah tren. ‘’Paling murah Rp 10 ribu, paling mahal sampai jutaan,’’ ungkap suami Indah Mayangsari ini.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close