Magetan

Evaluasi Empat Kasus Kematian dalam Dua Hari

GTPP Kena Pukulan Telak

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Empat kasus kematian dalam dua hari berturut-turut seolah meninju wajah tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Magetan. Evaluasi internal dilakukan lembaga penanganan bencana nonalam itu.

Kasus meninggalnya pasien positif korona asal Kecamatan Magetan, Sukomoro, Parang, dan Kawedanan, pada Sabtu (22/8) dan Minggu lalu (23/8) itu, haram terulang. ‘’Pukulan telak bagi tim GTPP,’’ kata Juru Bicara GTPP Covid-19 Magetan Saif Muchlissun Kamis (27/8).

Muchlis, sapaan akrab Saif Muchlissun, menyebut kasus kematian kali ini sangat disayangkan. Tiga dari empat pasien termasuk usia produktif 41 tahun hingga 45 tahun. Menurut dia, banyak faktor yang membuat para pasien tidak sanggup melawan virus yang muncul kali pertama di Wuhan, Tiongkok, itu.

Selain komorbid atau penyakit penyerta, kondisi psikis pasien ikut memengaruhi. Stres membuat fisik drop hingga akhirnya meninggal. ‘’Kami berpesan kepada semua pasien untuk tetap tenang dan tidak stres,’’ tutur kepala dinas komunikasi dan informatika tersebut.

Hasil evaluasi, Muchlis menyebut bahwa pengawasan masyarakat akan kembali diperketat. Razia tempat keramaian bakal digalakkan. Langkah itu menyusul tabiat masyarakat yang belakangan ini semakin abai protokol kesehatan.

Aktivitas dilakukan nyaris seperti sebelum terjadi pandemi Covid-19. Sebagian masyarakat ada yang tidak percaya bahwa korona itu ada. ‘’Karena mobilitas masyarakat saat ini sudah kembali tinggi. Jadi, harus ada antisipasi,’’ tegasnya.

Pemkab pun menyiapkan sanksi kepada para pelanggar protokol kesehatan. Muchlis merahasiakan bentuk hukumannya. ‘’Sanksi itu supaya ada efek jera dan menaati protokol kesehatan,’’ ucapnya. (bel/c1/cor)

Timbang Balita Tak Lagi Bersembunyi

KEGIATAN menimbang balita di Desa Carikan, Bendo, Magetan, oleh bidan desa setempat tidak lagi bersembunyi. Setelah pemanfaatan dua pos pelayanan terpadu (posyandu) disetujui pemerintah desa (pemdes) setempat. ‘’Sebelumnya kader posyandu curi-curi waktu datang dan menimbang sendiri,’’ kata Iin Rosita, bidan desa setempat, Kamis (27/8).

Iin menjelaskan, kegiatan menimbang balita di masa pandemi Covid-19 atas dasar permintaan orang tua. Mereka butuh tahu sejauh mana tumbuh kembang anaknya. Ketimbang hal tidak diinginkan terjadi, kader dan pemdes diajak koordinasi untuk memfasilitasi. ‘’Diperbolehkan dengan tata cara khusus sesuai protokol Covid-19,’’ ujarnya.

Ada 60 balita di Desa Carikan. Puluhan anak di bawah lima tahun itu ditimbang di dua pos. Masing-masing pos diisi lima kader pendamping hingga enam balita. Penimbangan di setiap pos bergiliran selama sepuluh hari. ‘’Tidak boleh berkumpul dan harus datang satu per satu. Menghindari kerumunan dalam satu kali sesi penimbangan,’’ terangnya.

Iin mengatakan, kader juga diberi persyaratan khusus. Mereka dilarang menggendong balita saat penimbangan. Anak harus digendong oleh orang tuanya. ‘’Alat timbang atau pengukur tinggi badan harus segera didisinfeksi setelah digunakan,’’ tuturnya. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close