Madiun

Ekonomi saat Pandemi

SEMUA orang juga tahu kalau perekonomian tengah lesu saat ini. Bukan hanya di tanah air. Ini hampir terjadi di seluruh dunia. Termasuk di kota kita. Padahal, perekonomian di Kota Madiun cukup bagus beberapa tahun belakangan ini. Pertumbuhannya, melebihi capaian Pemerintah provinsi dan nasional. Pertumbuhan ekonomi kota kita pernah mencapai 5,59 persen. Padahal, provinsi hanya 5,5 dan nasional di angka 5,1 pada tahun yang sama.

Maklum, kota kita sebagai kota jasa dan perdagangan memang terus berkembang. Pertokoan dan perhotelan terus bermunculan. Berbagai bidang usaha baru juga terus ada. Warung-warung kopi nyaris ada di setiap sudut kota. Dan yang terpenting, laku meski banyaknya pesaing. Pembelinya juga datang dari daerah sekitar. Kota kita dikelilingi tujuh juta penduduk. Ini merupakan potensi sekaligus tantangan. Laju ekonomi Kota Madiun bisa saja kencang berlari.

Namun, tidak sementara ini. Paling tidak sejak awal 2020 lalu. Saat Covid-19 masuk ke tanah air. Saya belum menghitung berapa angka pasti penurunannya. Berapa kerugian imbas dari Korona ini. Berapa yang penghasilannya menurun atau tidak bisa bekerja sama sekali. Berapa yang terkena pemutusan hubungan kerja dan lain sebagainya. Tapi yang jelas produksi sampah kita turun drastis. Dari yang sudah 120 ton sehari. Kini hanya sekitar 70 ton sehari. Konsumsi BBM juga turun antaran 20 sampai 30 persen. Ini karena pembatasan sosial tadi. Warga diminta lebih banyak di rumah. Artinya, penggunaan BBM otomatis juga turun.

Pembatasan sosial terpaksa dilakukan untuk memutus rantai persebaran virus dari China ini. termasuk di Kota Pendekar biarpun belum ada kasus ditemukan sampai saat ini. Pembatasan lebih sebagai langkah antisipasi. Jangan sampai warga kita tertular. Apalagi warga Kota Madiun sejatinya sehat. Terbukti munculnya delapan pasien dengan pengawasan atau PDP di Kota Madiun yang memiliki riwayat perjalanan dari daerah lain. Alhamdulillah, kedelapannya sudah terkonfirmasi negatif.

Kota kita hanya memiliki dua kasus saat ini. Yaitu, orang dengan resiko atau ODR dan orang dalam pemantauan atau ODP. Jumlah keduanya memang belum mengkhawatirkan. Tapi jumlahnya terus bertambah. Khususnya ODR yang sampai Minggu 12 April kemarin sudah 549 orang dengan 90 di antaranya sudah melewati masa pantau dan tidak sakit. Ini karena banyaknya warga yang nekat mudik biarpun sudah dihimbau untuk tetap tinggal di perantauan. Rata-rata ada 30 orang yang pulang setiap harinya. Makanya, saya minta pemeriksaan ketat di terminal dan stasiun. Ada petugas yang setiap hari memeriksa suhu tubuh penumpang yang turun. Pemeriksaan juga dilakukan di tenda sterilisasi.

Mereka yang sehat dan tanpa gejala ini wajib melakukan isolasi secara mandiri di rumah. Kalau membandel akan diisolasi di asrama haji. Sudah saya siapkan tempat di sana. Saya berharap yang nekat mudik ini sehat semua. Atau tidak tertular sewaktu perjalanan. Karena banyak kasus seperti itu. Awalnya sehat. Tapi tertular saat perjalanan dari kota. Mereka harus terus dipantau. Kalau yang sudah muncul gejala atau ODP malah akan lebih ketat lagi. Kasusnya sudah mencapai 47 orang sampai saat ini dengan 14 di antaranya sudah sembuh.

Makanya, kota kita belum bisa membebaskan seperti sedia kala. Sejumlah pembatasan tetap dilakukan. Tapi perekonomian jelas terdampak. Tidak apa, yang penting warga tetap sehat. Laju perekonomian dapat kita kejar setelah badai ini berlalu. Tetapi bukan berarti tidak ada upaya. Penanganan kesehatan memang menjadi yang utama saat ini. Bahkan, juga menjadi instruksi pemerintah pusat. Pemerintah pusat dengan yang di daerah sering diminta rapat koordinasi melalui video conference. Kalau di Kota Madiun ada di GCIO Dinas Kominfo Kota Madiun. Pakai layar super besar itu.

Kedua, soal penanganan dampak sosial dan yang ketiga terkait perekonomian. Dampak sosial dan laju perekonomian ini bisa saling terkait. Pemerintah sudah memberikan bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan sebagai upaya menekan dampak sosial ini. Sembako berupa bahan makanan ini juga ada yang dari masyarakat sendiri. Sudah mulai disalurkan. Kebanyakan beras dan mie instan. Ke depan akan ditambah lauknya. Ini memberdayakan pelaku UMKM tadi. Terutama UMKM di bidang kuliner.

Ada delapan jenis usaha yang sudah terdata. Di antaranya, UMKM sambal pecel, abon, keripik tempe, telor asin, dan jamu. Para pelakunya saya minta tetap berproduksi. Tetap memperkerjakan karyawannya. Hasil produksinya akan dibeli Pemerintah Kota Madiun untuk ditambahkan dalam paket-paket sembako tadi. Jadi biar tidak hanya beras dan mie yang kaya karbohidratnya. Tapi kebutuhan gizi lainnya juga tercukupi. Saya sudah menyisihkan Rp 25 miliar dari APBD tahun ini untuk penanganan Covid-19. Duit itu terkumpul dari kegiatan yang tidak mendesak dan dapat ditunda. Belum lagi bantuan dari pemerintah pusat. Biarpun belum masuk, bantuan itu dipastikan ada.

Kebijakan ini memang belum mendongkrak perekonomian kita. Tetapi paling tidak bisa sedikit meredam penurunannya. Pelaku UMKM tidak perlu menutup usahanya sementara. Tidak perlu merumahkan pekerjanya. Semuanya tetap beroperasi seperti biasa. Produksinya akan dibeli pemerintah untuk dibagikan. Artinya, dua urusan sekaligus tertangani. Pelaku UMKM tetap berjalan. Kebutuhan masyarakat terdampak juga terpenuhi.

Penulis adalah Walikota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close