Opini

Ekonomi Pasca-Idul Fitri

RAMADAN telah terlewati. Lebaran pun telah kita jalani. Semoga kita semua kembali menjadi fitri. Ramadan dan Lebaran mengajarkan banyak hal. Mulai belajar mengendalikan hawa nafsu hingga kerendahan hati untuk saling memaafkan. Keduanya memang sudah kita lewati biarpun dengan suasana pandemi Covid-19. Namun, perang melawan hawa nafsu seperti saat Ramadan lalu bukan lantas usai. Sebulan mengekang hawa nafsu saat Ramadan harus menjadi pembelajaran. Kita harus semakin lebih baik ke depan.

Kita mungkin sudah kembali suci. Tetapi bukan berarti sudah tidak ada ruang dalam hati untuk memberi dan menerima maaf. Kita harus terus belajar agar kemampuan kita akan keduanya semakin meningkat. Kita menjadi pribadi yang lihai mengendalikan hawa nafsu sekaligus pribadi yang suka memberikan maaf dan mudah memohon maaf saat melakukan kesalahan.

Setelah Ramadan muncullah bulan Syawal. Ada yang bilang Syawal berarti naik atau peningkatan. Tentunya merujuk dari yang sebelumnya. Artinya, ada peningkatan dari apa yang kita lakukan pada hari dan bulan sebelum-sebelumnya. Tentu saja peningkatan dalam hal kebaikan. Saat Ramadan suka bersedekah, di bulan Syawal ini harusnya lebih ditambah. Yang biasa tadarus Alquran, harusnya lebih digiatkan. Yang kemarin rajin beribadah, ya harusnya lebih istiqamah.

Mari kita sama-sama berupaya melakukan itu. Mari sama-sama kita lakukan peningkatan. Bukan hanya soal keagamaan. Tetapi juga peningkatan dalam semua bidang kebaikan. Termasuk dalam pekerjaan. Apa yang kita kerjakan saat ini harus lebih meningkat dari sebelumnya. Karenanya, saya tancap gas usai libur Lebaran ini. Kita segera kerjakan apa yang sempat tertunda. Semangat kita tingkatkan agar serentetan pekerjaan segera terlaksana. Ada banyak program yang sudah menanti di depan.

Termasuk terkait pembangunan fisik. Proyek fisik memang sudah mulai berjalan sejak sebelum Ramadan kemarin. Namun, baru sebatas pekerjaan kecil. Salah satunya, perbaikan trotoar di beberapa titik. Pembangunan lanjutan program Lapak UMKM juga mulai berjalan. Nah, setelah perayaan Lebaran ini saya ingin itu ditingkatkan. Pembangunan lanjutan Lapak UMKM harus dikebut. Harus segera beres. Harus bisa optimal untuk peningkatan ekonomi lokal. Yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi memang kita dahulukan.

Proyek-proyek besar juga segera mulai kita kerjakan. Memang ada banyak pekerjaan besar. Di antaranya, pembangunan pedestrian di Jalan Jawa, pembangunan kantong parkir, pembangunan dari perempatan tugu sampai ke Pasar Sleko atau kuliner Cokro, pembangunan trotoar dari tugu sampai alun-alun, dan lanjutan sentra kuliner Rimba Darma. Semuanya bermuara pada peningkatan ekonomi. Beberapa di antaranya terkait kuliner. Seperti Rimba Darma dan kuliner Cokro.

Jalan Cokroaminoto memang kita konsep untuk tempat kuliner malam. Kawasan itu sudah cukup dikenal banyak tempat kuliner. Utamanya saat malam. Trotoar di situ juga kita perbaiki sampai Sleko. Lampu-lampu kita tambah agar semakin terang. Namun, kemungkinan besar trotoar tidak kita lebarkan seperti Jalan Pahlawan. Sebab, Jalan Cokro sekaligus menjadi kantong parkirnya. Kalau trotoar dilebarkan, jalan makin sempit karena harus berbagi untuk tempat parkir juga. Trotoarnya hanya kita perbaiki agar menarik dan nyaman. Kalaupun ada pelebaran, mungkin hanya sedikit.

Di ujung selatan juga akan kita benahi. Di sana ada tower air PDAM. Ya, tower akan kita buat seperti menara di Malaysia. Banyak kerlap-kerlip lampu. Nanti juga ada videotronnya. Jadi terang dan menarik. Kawasan di bawahnya, lagi-lagi surganya penikmat kuliner malam. Kita juga bangunkan tempat yang aman, nyaman, dan menarik di sana. Semakin banyak tempat yang seperti itu, semakin cepat ekonomi kita pulihkan. Tetapi tentu juga tidak sembarangan kita buka setelah bangunannya siap nanti. Tetap melihat perkembangan Covid-19. Jika belum memungkinkan, ya terpaksa kita buka kecil-kecilan dulu.

Tetapi pembangunan harus dimulai dari sekarang. Kita tetap berpacu dengan waktu. Pandemi ini belum diketahui kapan berakhirnya. Mungkin dalam waktu segera. Mungkin juga masih lama. Terlepas dari itu, kita juga harus terus bersiap. Jangan hanya berserah diri sampai korona pergi. Perlahan kita persiapkan agar segera bisa tancap gas setelah pandemi nanti. Upaya ini bukan sekadar peningkatan ekonomi lokal. Bukan sekadar menumbuhkan perekonomian. Tetapi sebagai lompatan ekonomi kita setelah pandemi korona. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button