Madiun

Dyah Ayu Kusumaningtyas Piawai Menari, Nyinden, dan Mendalang

Seni mengalir dalam darah Dyah Ayu Kusumaningtyas. Tidak hanya menari, remaja 13 tahun itu juga piawai nyinden dan mendalang. Puluhan panggung pergelaran wayang kulit telah dijajalnya. Bagaimana suka dukanya?

==================

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BELASAN wayang terpajang di kanan kiri ruang tamu rumah Dyah Ayu Kusumaningtyas. Mulai Bima, Arjuna, hingga beberapa tokoh raksasa. Ada pula kereta kencana ditarik dua ekor kuda lengkap dengan kusirnya.

Di sudut lainnya terlihat sejumlah piala diletakkan di meja. Salah satunya didapat Ayu pada pertengahan September lalu. Kala itu mewakili Provinsi Jawa Timur. ‘’Ini waktu menang festival lomba dalang bocah tingkat nasional di TMII (Taman Mini Indonesia Indah, Red) Jakarta,’’ kata Ayu.

Ayu akrab dengan dunia seni sejak kecil. Maklum, ayah dan kakeknya seorang dalang. Sedangkan ibunya penari. ‘’Dari kecil oleh orang tua sudah dikenalkan kesenian Jawa. Selain mendalang, juga nembang dan karawitan,’’ ujar gadis 13 tahun itu.

Saat usianya baru menginjak dua tahun, Ayu sudah piawai menari. Pun, pernah tampil di panggung pergelaran wayang kulit saat diajak menghadiri pesta pernikahan teman sang ayah. ‘’Saya minta menari. Akhirnya didandani dan tampil menari,’’ kenangnya.

Sementara, saat duduk di bangku TK, Ayu mulai belajar nyinden. Gurunya tidak lain ayahnya sendiri. Kala itu Ayu juga sudah mulai ikut tampil di pergelaran wayang kulit. ‘’Lihat mbak-mbake sinden jadi ingin seperti mereka,’’ tuturnya. ‘’Pertama nyinden, membawakan Pangkur Slendro dan langgam Nari Kangen,’’ imbuhnya.

Beranjak SD, Ayu mulai fokus mempelajari dunia pedalangan. Pun, saban tahun rutin mengikuti lomba dalang bocah. Dia hanya absen saat kelas III dan IV SD. ‘’Waktu itu vakum karena sibuk belajar dan les,’’ kata warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Madiun, ini.

Sejak duduk di bangku SD pula Ayu kerap tampil bersama ayahnya sebagai sinden. Dalam setiap pergelaran dia perform 5-6 jam. Mulai 20.30 hingga menjelang subuh. ‘’Kalau sedang ada ulangan atau besoknya harus sekolah, jam 02.00 disuruh tidur di mobil,’’ kenang putri pasangan Yogi Danan Priyo Utomo dan Ika Wiwidyawati itu.

Hingga kini sudah puluhan kali Ayu tampil di panggung wayang kulit. Baik sebagai sinden, penari, maupun dalang. ‘’Paling sering tampil di wilayah Karesidenan Madiun. Yang agak jauh Solo dan Wonogiri. Pernah juga ikut ayah ke Kalimantan,’’ ujar pengagum mendiang Ki Narto Sabdo ini. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button