Madiun

Dulu Tukang Berkelahi, Kini Alif Cakra Tirta Jadi Atlet Tinju

Kota Madiun memiliki atlet tinju berbakat. Alif Cakra Tirta bakal unjuk kemampuan bertinju mewakili Kota Madiun di ajang Porprov Jatim Juni mendatang. Sebelumnya, medali perak kejuaraan tingkat provinsi sempat mengalung di lehernya.

———————-

DENGAN ekspresi serius, Alif Cakra Tirta menghujani samsak hitam yang menggantung di depannya dengan pukulan kedua tangan. Sesekali dia menggerakkan kepala dan kedua kakinya ke kanan dan kiri seolah sedang bertarung dengan lawan di atas ring.

Tak lama berselang, Alif menuju ring. Lalu, melakukan sit up di matras. Juga memutar-mutar kepala. Puas berlatih, dia duduk selonjoran di sudut ring sambil menenggak air putih. ‘’Kepala diputar-putar untuk menguatkan otot leher,’’ kata Alif.

Alif merupakan salah satu atlet Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Madiun. Dia menekuni olahraga adu jotos itu sejak 2016 silam. Persisnya saat duduk kelas XI SMK. Baru beberapa bulan latihan, Alif didapuk turun di kejuaraan tinju seleksi pra-PON Jatim dan popnas di Batu.

Dalam kompetisi itu, Alif berhasil menyabet medali perak kelas 56 kilogram kategori pelajar. ‘’Sebelumnya sempat dilarang sama ibu karena baru tiga bulan latihan tinju. Nggak menyangka, ternyata bisa menang,’’ ujar pemuda 19 tahun itu.

Masih segar dalam  ingatannya, pulang dari Batu medali itu dimasukkan kantong celana. Begitu sampai rumah, medali tersebut dia kalungkan ke leher Sri Mulyani, ibunya. ‘’Setelah itu, satu keluarga menangis semua,’’ kenangnya.

Usai kejurda tersebut, sejatinya Alif dan salah seorang rekannya mendapatkan undangan mengikuti seleksi popnas. Namun, waktunya bersamaan dengan jadwal seleksi masuk TNI- AL. ‘’Tinggal tahap terakhir seleksi saya gagal. Setelah itu daftar jadi satpam di rusuwa (rumah susun sewa, Red),’’ bebernya.

Sebelum menekuni tinju, Alif dikenal gemar berkelahi. Semasa berseragam putih abu-abu, beberapa kali nyaris dikeluarkan lantaran gelut dengan teman sekolahnya. Pernah pula dia harus dilarikan ke rumah  sakit usai terlibat baku pukul hingga mengalami pendarahan di bagian hidung. Belakangan diketahui lawannya itu menekuni tinju.

Di saat bersamaan, Hariono, ayahnya, juga meminta Alif berlatih tinju dengan Rahman Priyono, salah seorang pelatih Pertina yang pernah tampil di SEA Games era 1980-an. ‘’Awalnya ogah-ogahan mau latihan. Lebih senang main. Tapi lama-kelamaan senang. Ternyata tinju itu asyik,’’ sebutnya.

Bagi Alif, tinju tidak sekadar mengandalkan kekuatan pukulan, tapi juga butuh teknik memukul yang tepat. Pun, kecerdasan mengatur strategi serta faktor mental tidak bisa diabaikan. ‘’Awalnya sering gugup waktu lihat postur lawan yang lebih besar,’’ akunya.

Saat ini Alif sedang menambah porsi latihannya menjelang turun di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim Juni mendatang. Dia tidak sendiri. Ada empat rekannya dari Pertina yang mewakili Kota Madiun.

Dalam sepekan, Alif berlatih empat kali. Durasi sekali latihan bisa sampai dua jam. Selain berlatih di basecamp Pertina, dia biasa memanfaatkan waktu senggang di sela aktivitasnya bekerja sebagai satpam untuk lari. ‘’Pagi atau siang lari keliling rusun, malamnya di lapangan Gulun,’’ ujarnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button