Ngawi

Dua Tahun, 36 Kasus Bunuh Diri, Mayoritas Dipicu Faktor Depresi

‘’Hampir setiap bulan selalu ada laporan orang meninggal karena bunuh diri. Kadang sampai tiga-empat.’’ AKBP MB. Pranatal Hutajulu, Kapolres Ngawi

————————-

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Kasus bunuh diri di Ngawi memprihatinkan. Bahkan, masuk kategori tinggi di wilayah Jawa timur. Catatan polres setempat, dalam dua tahun terakhir saja, sedikitnya 36 orang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dari jumlah itu, 12 di antaranya terjadi sepanjang setengah tahun terakhir.

Rasa putus asa disebut-sebut biang pelaku memilih tindakan tak terpuji itu. ‘’Hampir setiap bulan selalu ada laporan orang meninggal karena bunuh diri. Kadang sampai tiga-empat,’’ kata Kapolres Ngawi AKBP MB. Pranatal Hutajulu Senin (26/8).

Sebanyak 36 kasus tersebut, lanjut dia, tersebar di sejumlah kecamatan. Terbanyak Kedunggalar dengan enam kejadian. Disusul Kendal, Kasreman, Paron, dan Gerih masing-masing tiga. ‘’Kebanyakan (kasus bunuh diri di Ngawi) dipicu faktor depresi,’’ ungkapnya.

Natal –sapaan akrab Pranatal Hutajulu- menyebut, pelaku bunuh diri mayoritas berusia 50 tahun ke atas. Pada 2018, misalnya, dari 24 orang yang bunuh diri, 14 di antaranya tergolong lanjut usia. Sementara, hingga pertengahan tahun ini terdapat sembilan warga berusia lebih dari 50 tahun yang bunuh diri.

Penyebabnya, lanjut dia, beragam. Mulai sakit menahun tak kunjung sembuh, kesulitan ekonomi, terlilit utang, hingga masalah kejiwaan. ‘’Orang seperti ini kita datangi, kita beri konseling dan sedikit bantuan,’’ terang Natal.

Pelaku bunuh diri didominasi laki-laki. Tahun lalu, dari 24 kasus yang terjadi, hanya dua yang pelakunya perempuan. Sementara, dari 12 kasus pada 2019 ini, 11 di antaranya pelakunya pria. ‘’Dinas terkait harus gencar melakukan penyuluhan dan sosialisasi, kami siap mendukung,’’ tegasnya.

Dia berharap warga lebih perhatian dengan keluarga masing-masing. Juga memberikan dukungan moril saat salah seorang anggota keluarganya mendapat masalah hingga mengalami tekanan mental. ‘’Dinas kesehatan, dinas sosial, dan ulama harus di depan,’’ ucap Natal. (gen/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close