Magetan

Dua Ribu Santri Tertahan di Temboro

Satgas Selidiki Subjek Penularan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Lingkungan pondok pesantren (ponpes) di Temboro, Kecamatan Karas, telah menjadi episentrum penyebaran korona di Magetan. Karena sudah ada 24 orang di lingkungan tersebut yang terpapar virus Covid-19. Meliputi 18 santri dan enam warga sekitar ponpes.

Meski demikian subjek penularan Covid-19 di kawasan tersebut masih belum terungkap. Yang jelas pola persebarannya propagated atau putus-putus yang menandakan dari orang ke orang. ‘’Sebenarnya sampai saat ini kami masih mencari tahu dari mana asal penularan virus tersebut. Yang pasti wilayah itu bukan termasuk klaster baru,’’ kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Magetan Saif Muchlissun Rabu (29/4).

Pernyataannya itu sekaligus membantah tudingan dari pihak pemerintah Malaysia yang menganggap ponpes di Temboro tersebut merupakan klaster baru korona. Karena sampai dengan saat ini hasil penyelidikan epidemiologisnya belum ada.

Muchlis mengaku butuh waktu untuk menelusuri subjek utama penyebaran virus korona di lingkungan ponpes tersebut. Terlebih mobilitas penghuni ponpes tinggi. Jumlah santrinya juga mencapai puluhan ribu. Mereka berasal dari berbagai negara dan daerah. Seperti Thailand dan Malaysia. ‘’Karena mobilitas di sana begitu tinggi, jadi ada beberapa kemungkinan klaster penyebarannya,’’ ujar pria yang juga menjabat kepala diskominfo itu.

Yang jelas, kata Muchlis, dari hasil penelusuran diketahui bahwa para santri yang terpapar Covid-19 termasuk orang tanpa gejala (OTG). Untuk menekan lonjakan kasus, pihaknya berupaya terus melakukan contact tracing. Dia juga masih menunggu hasil swab test terhadap 31 santri reaktif rapid test. ‘’Contact tracing masih terus kami lakukan. Dari situ kami berharap bisa diketahui sumbernya,’’ tutur Muchlis.

Sampai saat ini masih ada sekitar 2 ribu santri yang tertahan di dalam ponpes. Rencananya mereka semua akan dipulangkan secara bertahap. Tapi, seiring bertambahnya kasus Covid-19 di lingkungan ponpes, para santri tersebut belum bisa dipulangkan. ‘’Karena ada masalah santri yang reaktif saat rapid test dan positif setelah swab test. Jadi, mereka tidak bisa pulang. Semua santri kami pulangkan dengan catatan sehat dan sudah mendapatkan tiket kepulangan,’’ jelas Muchlis.

Sementara itu, kabar baik datang dari pasien positif korona ke-10 asal Kecamatan Karas. Pasien yang sudah tiga minggu dirawat di RSUD dr Soedono, Madiun, itu telah dinyatakan sembuh. Kemarin (29/4) pasien tersebut dijemput oleh pemkab.

Kendati sudah diizinkan pulang, pasien laki-laki 52 tahun itu masih harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari ke depan. ‘’Yang bersangkutan menjalani isolasi mandiri, kami minta masyarakat sekitar untuk tidak mengucilkannya,’’ tutur Muchlis. (bel/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close