Madiun

Dua Napi Lapas Kelas I Madiun Kabur

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Dua narapidana (napi) kabur dari Lapas Kelas I Madiun. Kedua napi itu masing-masing M dan I merupakan layaran dari salah satu lapas di Kalimantan dan Rutan Medaeng Sidoarjo.

Kalapas Kelas I Madiun Thurman Saud Marojahan Hutapea menguraikan, peristiwa itu terjadi sehari sebelum Ramadan. Persisnya, Kamis lalu (23/4). ‘’Saya juga kaget. Napi itu dibon (dipekerjakan, Red) tanpa sepengetahuan saya,’’ kata Thurman kemarin (27/4).

Kronologi kaburnya dua napi itu berawal saat DA, oknum pegawai lapas setempat, mempekerjakan dua napi keluar lapas untuk memperbaiki rumah dinasnya. Kebetulan,  rumah dinas pegawai yang menjabat Kabid Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) itu berada di belakang area lapas. ‘’Itu kekecewaan saya yang paling utama. Pengeluaran napi itu nonprosedural,’’ ungkapnya.

Thurman tidak tahu persis bagaimana kronologi kaburnya dua napi itu. Diperkirakan oknum tersebut lalai dalam mengawasi dua napi saat dipekerjakan. Napi memanfaatkan kelengahan itu untuk melarikan diri tanpa sepengetahuan DA. ‘’Tiba-tiba lapor ke kami kalau dua napi kabur saat bekerja di rumahnya. Saya bertanya balik, kok bisa keluar itu bagaimana ceritanya?’’ ucapnya.

Dari situlah diketahui bahwa DA –pejabat setingkat eselon III– itu melakukan bon tanpa sepengetahuan pimpinan alias nonprosedural. Padahal, sehari sebelum kejadian itu, Thurman mengeluarkan perintah kepada yang bersangkutan untuk hadir menerima bantuan alat pelindung diri (APD) dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bertempat di Kanwil Kemenkumham Jatim. Sayangnya, DA tidak melaporkan ke atasannya. ‘’Saya kecewa dia tidak melapor ketika berangkat. Sampai di kanwil dan sampai pulang juga tidak laporan. Tiba-tiba sebelum berangkat ke kanwil dia ngebon napi dan menyuruh tiga stafnya mengawal di rumah dinasnya,’’ beber Thurman.

Thurman langsung melaporkan kejadian ini ke Kadiv Pas, kepala Kanwil Kemenkumham Jatim, hingga ke Dirjen Pemasyarakatan. Kanwil Kemenkumham Jatim langsung terjun membentuk tim. DA pun dinyatakan bersalah lantaran telah mengeluarkan napi secara nonprosedural. ‘’Sesuai prosedurnya seharusnya tidak seperti itu,’’ tuturnya.

Sesuai ketentuan, syarat mengeluarkan napi minimal telah menjalani setengah dari masa tahanannya. Kemudian sudah melalui proses sidang tim pengamat pemasyarakatan (TPP), baru selanjutnya dikeluarkan SK asimilasi terbatas dengan pengawalan petugas. ‘’Kami sudah mengeluarkan instruksi bahwa prosedurnya harus disetujui kalapas,’’ tegasnya.

Kanwil Kemenkumham Jatim menjatuhi sanksi. Oknum pegawai itu kini ditarik ke Kanwil Kemenkumham Jatim untuk distafkan. Sementara pencarian terhadap dua napi masih terus dilakukan. Diperkirakan keduanya masih berada di sekitaran Madiun Raya. Thurman berharap situasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menyulitkan keduanya dalam melanjutkan pelariannya. ‘’Kami imbau warga, jika melihat pendatang baru yang mencurigakan, tolong diinformasikan kepada kami,’’ pintanya.

Ciri-ciri kedua napi memiliki tubuh kekar dengan tinggi badan sekitar 170 sentimeter. Kulit keduanya putih dan usianya masing-masing sekitar 30 dan 40 tahun. Keduanya merupakan napi kasus narkoba yang masing-masingnya divonis 11 dan 12 tahun. Keduanya telah menjalani masa hukuman 3-4 tahun. ‘’Kami akan lebih memperketat proses pengeluaran napi untuk melakukan pekerjaan di luar lapas,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close