Bupati Menulis

Dua Hari Raya Tidak Mudik

TIDAK ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri atau nothing endures but change. Perubahan itu mutlak kata Herakleitos, filsuf Yunani kuno (540–480 SM). Setiap generasi mengalaminya. Hanya kecepatannya saja yang berbeda. Suasana Idul Fitri pada 1960-an sangat jauh berbeda dengan 1980-an atau 2021. Mengapa ada perubahan? Bagaimana mekanismenya? Pertanyaan ini selalu menggoda. Dalam teori perubahan sosial, ada tiga perspektif yang mendorong perubahan.

Pertama, perspektif idealistis. Para teoretisi memandang ide, ideologi, atau nilai-nilai sebagai faktor yang memengaruhi perubahan. Montesquieu paling dikenal dengan ajaran Trias Politika. Pemisahan kekuasaan negara menjadi tiga. Yaitu, eksekutif (pelaksana undang-undang), legislatif (pembuat undang-undang), serta yudikatif atau kehakiman (pengawas pelaksanaan undang-undang). Dari sebuah ide Montesquieu memengaruhi tatanan pemerintahan di seluruh dunia.

Yang kedua, perspektif mekanisme interaksional. Manusia dalam kehidupan tidak pernah bertindak dalam kevakuman. Apalagi sebagai makhluk sosial yang ditakdirkan selalu berinteraksi dengan orang lain. Interaksi ini yang kemudian menggerakkan mekanisme perubahan. Terutama terjadinya konflik.

Konflik ada di mana-mana. Kompetisi sebagai bentuk konflik yang terbukti menimbulkan perubahan. Berbagai universitas bersaing mendapatkan pengajar yang berkualitas. Hal itu memaksa lembaga untuk terus meningkatkan laju perubahan yang memang sudah tak terelakkan.

Ketiga, perspektif materialistis atau teknologi. Penganut teori ini Thostein Veblen dan W.F. Ogburn. Keduanya melihat tatanan masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi. Pola keyakinan dan perilaku manusia dibentuk melalui cara-cara bagaimana teknologi berfungsi. Walau bukan satu-satunya, namun pengaruhnya sangat besar. Apalagi di era digital.

Menjelang Idul Fitri pada 1980-an, kantor pos pasti sibuk sekali. Salah satunya pelayanan pengiriman kartu pos. Anak sekolah sampai direkrut untuk membantu menyortir kartu ucapan selamat hari raya. Pada 1990-an, seiring mulai dikenalnya e-mail dan telepon genggam analog, pengiriman ucapan lewat kartu pos pun mulai ditinggalkan.

Selanjutnya ada generasi kedua (2G). Generasi yang disebut peralihan dari analog ke digital. Kita bisa mengirim pesan pendek yang menggeser pesan lewat radio panggil atau dikenal pager. Alatnya kecil, ada layar pesan. Bila ada pesan masuk, terdengar bunyi khas. Kemudian berkembang generasi GPRS atau 2,5 G. Kita mulai bisa mengirim gambar dan mengakses internet.

Inovasi datang lagi. Generasi ketiga (3G) mulai dikenal dengan pengiriman pesan audiovisual. Lalu generasi keempat (4G) atau disebut juga koneksi LTE. Koneksi tersebut yang saat ini paling banyak untuk keperluan komersial. Kelebihannya pada kecepatan jaringan yang ditawarkan dan kualitas grafis yang lebih baik.

Kita saat ini di generasi yang bisa menikmati live streaming dengan kualitas sangat bagus. Bisa memanfaatkan aplikasi telekonferensi video. Pertemuan skala besar bisa dilakukan secara virtual. Praktis dengan jangkauan lebih banyak.

Saat ini muncul varian baru Covid-19 yang lebih berbahaya. Kasus di India memberikan pelajaran bahwa pemerintah harus mengambil sikap dalam perayaan Idul Fitri 1442 H. Kebijakan yang sangat tidak populer. Tradisi mudik ke kampung halaman dilarang.

Pemerintah pusat menyampaikannya dengan tegas. Kebijakan itu pun diikuti pemerintah daerah. Semua aparat pemerintah sibuk melakukan penyekatan. Bila Lebaran sebelum pandemi aparat sibuk memperlancar arus mudik, maka kini mencegah masyarakat untuk mudik.

Covid-19 memberi pelajaran kepada kita semua. Bagaimana mencari jalan keluar tanpa mengurangi makna perayaan Idul Fitri. Mengutip ajaran Ki Hadjar Dewantara mengenai proses implementasi perubahan. Teori yang ditawarkan sifat, bentuk, isi, dan irama (SBII). Dalam perubahan, sifat ajaran dan nilai-nilai tidak boleh berubah. Meski bentuk, isi, dan irama dapat disesuaikan kebutuhan.

Demikian juga sifat dan nilai Idul Fitri tidak boleh berubah. Namun, bentuk, isi, dan iramanya bisa berubah. Silaturahmi sebagai nilai tetap sepanjang masa. Bentuk yang berupa harus pulang secara fisik bisa berubah. Isinya saling memaafkan tidak secara fisik bertemu. Dan irama atau geraknya bisa secara virtual.

Di era digital, dalam perspektif materialitis, silaturahmi tetap berjalan. Namun, berubah secara virtual. Dua tahun ini tidak mudik. Lebih baik yang mudik uangnya saja. Membantu program-program di desa tempat tinggalnya. Membangun panti wreda, asrama pondok, masjid, perpustakaan sekolah, atau laboratorium sekolah. Ada larangan mudik, tapi kita masih memberi manfaat pada orang banyak. Kepada tanah kelahiran kita. Betapa mulianya kita semua. Selamat Idul Fitri 1442 H. (*/cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button