Ponorogo

Dua Dasawarsa SDN 3 Balong Merana

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – 88 siswa SDN 3 Balong dirundung waswas. Setiap hari, mereka belajar di bawah atap kelas yang terancam ambruk. Kerangka kayu lapuk dan berlubang. Nyaris belum tersentuh perbaikan sejak 21 tahun terakhir.

Tiga bulan lalu, ketika berlangsung mata pelajaran olahraga, pelipit ruang kelas III terjatuh dua kali. Setelah plafonnya dibongkar, ternyata kondisi kayu lapuk dan keropos dimakan rayap. Tanda-tanda kerusakan itu sejatinya sudah terendus setahun terakhir. ‘’Sudah lama terlihat tanda-tanda kerusakan di kayu kusen,’’ ungkap Kepala SDN 3 Balong Kariminanto Kamis (7/11).

Ketika datang kali pertama, Kariminanto sudah melihat plafon rusak dan tembok bercat usang. Sekolah di timur lapangan Jepun ini sempat ada perbaikan lantai dan dinding, 2015 silam. ‘’Awal tahun kami perbaiki data dapodik bangunan, rusak sedang. Agustus persentase kerusakan kita naikkan 40-50 persen. Update terakhir kerusakan per 1 November kemarin 67 persen rusak berat,’’ jelasnya sembari menyebut sekolah yang berdiri pada 1976 ini dulu beratap asbes. Tahun 1998 diganti genting hingga saat ini.

Selain memperbarui data dapodik, pihak sekolah telah mengirim surat pengajuan perbaikan sekolah. Dua lembar proposal bernomor 421./046/405.07.9.02/2019 melampirkan foto-foto kondisi plafon yang rusak. Surat tertanggal 16 September 2019 itu menerangkan bahwa kondisi gedung sekolah sangat memprihatinkan. Kerusakannya berpotensi membahayakan keselamatan guru dan siswa. Pembelajaran pun kini terpaksa berpindah-pindah tempat. Semula geser ke perpustakaan lalu pindah lagi ke ruang kesenian. ‘’Ada 20 siswa kelas III yang boyongan ke kelas ini,’’ ujarnya.

Alat-alat kesenian pun kini dipindah ke ruang kelas III. Kalau ada pelajaran kesenian, barulah alat-alatnya dikembalikan ke ruang kesenian. ‘’Kelas darurat itu berukuran 7×8 meter persegi,’’ sebutnya.

Kondisi kelas VI di SDN 3 Balong juga merana. Dilihat dari luar, tampak atap papan gentingnya sudah cekung bagian tengahnya. Serupa dengan genting di kelas III. Ditengok dari halaman belakang sekolah, terlihat jelas plafon berlubang membentuk garis sepanjang 70 sentimeter. Ironisnya, sampai kini ruang kelas tak layak itu masih digunakan belajar sehari-hari. ‘’Besok (hari ini, Red) saya minta untuk dicek apakah di dalam plafonnya juga keropos seperti kelas III,’’ katanya. (dil/c1/fin)

Pak Menteri, Tengoklah Sekolah Kami…

DINAS Pendidikan (Dindik) Ponorogo harus memutar otak menyikapi terancam robohnya tiga ruang kelas di SDN 3 Balong. Pasalnya, usulan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memperbaiki lewat dana alokasi khusus (DAK) ditolak.

Kementerian yang kini dipimpin Nadiem Makarim itu menganggap kerusakan di SDN 3 Balong tidak terlalu parah. ‘’Sudah kami usulkan, tapi kementerian belum menyetujui,’’ kata Kabid Pembinaan SD Dindik Imam Muslihin.

Pihak SDN 3 Balong, kata Imam, sudah melaporkan kerusakan di tiga ruang kelas sejak sebulan lalu. Secara tertulis. Berbekal laporan itu, dindik pun mengkaji biaya perbaikannya. Total untuk tiga ruang kelas membutuhkan anggaran senilai Rp 376 juta. Karena cukup besar dan genting, diusulkanlah melalui DAK. Sayangnya, tim penilai dari Kemendikbud menolak.

Imam menyebut, pusat melihat kerusakan di SDN 3 Balong hanya masuk kategori enam. Salah satu bahan pertimbangan mereka adalah data pokok pendidikan (dapodik) sekolah. Di dapodik SDN 3 Balong, saat pengusulan, tercantum bahwa tiga ruang kelas tersebut dalam kondisi rusak, namun tidak tergolong berat. ‘’Di dapodik tidak rusak berat. Makanya hanya masuk kategori enam. Yang pasti disetujui itu kalau kerusakannya masuk kategori satu atau rusak parah, sehingga mendesak untuk diperbaiki,’’ urainya.

Diakui Imam, saat pengusulan pihak sekolah belum mengubah dapodik sesuai fakta di lapangan. Padahal, versi sekolah dan dindik, kerusakan di tiga ruang kelas itu sudah lebih dari 60 persen. Pun, data yang dikantongi Imam, tiga ruang kelas tersebut terakhir direhab pada 1998 lalu. Sudah 21 tahun. ‘’Kalau dilihat dari luar, tidak kelihatan rusak. Tapi ternyata konstruksi atapnya sudah keropos,’’ beber Imam.

Lantaran usulan perbaikan menggunakan DAK ditolak, dindik mencoba cara lain. Yakni, mengusulkan perbaikan menggunakan dana alokasi umum (DAU). Saat ini masih dalam proses pengusulan ke pemerintah pusat. Jika disetujui, perbaikan paling cepat direalisasi Maret. Untuk sementara, demi mengantisipasi musim hujan, pihak sekolah memasang bambu sebagai penyangga atap yang lapuk. Dindik meminta kelas dikosongkan. ‘’Ini darurat. Kami sarankan menggunakan ruangan lain sebagai ruang kelas. Sambil menunggu usulan perbaikan menggunakan anggaran DAU disetujui,’’ ujarnya. (naz/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button