PacitanPendidikan

DPRD Pacitan Antisipasi Putus Sekolah Minim

PACITAN – DPRD Pacitan prihatin munculnya peserta didik yang memilih meninggalkan sekolah demi mencari nafkah. Dinas pendidikan (dindik) dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait lainnya jadi tertuding. Mereka dinilai terlambat mengantisipasi. ‘’Seharusnya ada tindakan preventif. Bukan setelah kejadian didata dan diajak kembali ke sekolah,’’ kata Wakil Ketua DPRD Pacitan Gagarin kemarin (28/4).

Menurut dia, pemkab wajib memfasilitasi sektor pendidikan. Terutama jenjang SD dan SMP. Pengembangan pendidikan tidak sekadar mememuhi arana dan prasarana (srapras). Dia menilai OPD terkait lupa menjalin hubungan baik antara sekolah dan masyarakat. Termasuk mengetahui masalah yang dihadapi  siswa. Kunjungan ke rumah siswa, lanjut dia, juga perlu. ‘’Bagaimana sekolah tahu permasalahan yang dihadapi siswa kalau tidak melakukan home visit,’’ tuturnya.

Dengan home visit, kata dia, permasalahan spesifik yang dihadapi siswa akan diketahui. Pihaknya berharap pemkab tidak lantas menggenaralisasi permasalahan dengan kebijakan yang bersumber dari pemerintah pusat. Seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sebab, dengan kunjungan, bisa dilakukan sejumlah penyesuaian yang efektif. Kondisi tersebut bisa diselesaikan melalui kebijakan pemkab. Salah satunya Program Grindulu Mapan yang disebut kekinian dan kedisinian. ‘’Harusnya sudah bisa terselesaikan,’’ tambahnya.

Dia juga menilai masing-masing OPD belum bisa mengoptimalkan. Mereka sekadar bekerja sesuai tupoksinya tanpa kerja bareng. Sehingga, masalah pendidikan hanya jadi tanggung jawab dindik. Padahal peningkatan kesadaran pendidikan juga perlu dukungan dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (DPMD), dinas pengendalian penduduk keluarga berencana dan pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak (DPPKBPPA) dan dinas lainnya. ‘’Saat ini kelihatannya kerja sendiri-sendiri,’’ tambahnya.

Dengan kerja bareng dia yakin angka putus sekolah bakal ditekan. Pasalnya pemerintah desa hingga organisasi masyarakat di desa pun ikut melakukan pengawasan dan bimbingan. Sebab, kesadaran pentingnya pendidikan sudah dimiliki warga. Bahkan, warga rela melakukan berbagai cara agar anaknya bisa menempuh pendidikan. ‘’Cuma sekarang kesadaran itu masih seperti dulu atau tidak,’’ ungkapnya. (odi/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close