Opini

Dokter Tanpa Masker?

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono
(Pimpinan Ladima Tour & Travel)

DOKTER tanpa masker, rasanya, imposibel. Tidak mungkin. Masker identik dengan seragam dokter dan tenaga medis. Masker adalah salah satu piranti kesehatan atau alat pelindung diri (APD) yang sangat penting bagi dokter atau tenaga medis dalam menjalankan tugasnya. Menolong pasien.

Masker adalah alat pelindung bagi dokter dan tenaga medis dari penularan virus atau penyakit yang disandang pasien. Piranti tersebut sangat efektif untuk menangkal droplet (percikan cairan tubuh) dari batuk dan bersin. Dalam pandemi Covid-19 atau virus corona ini memakai masker adalah sangat penting. Dokter dan tenaga medis bisa memiliki pelindung diri dengan memakai masker. Tidak tertulari atau menulari.

“Memakai masker sama efektifnya atau bahkan lebih efektif daripada menjaga jarak.” Pernyataan ini dilontarkan penasihat Badan Kesehatan Dunia (WHO) Prof David Heymann CBE. Masker menjadi penting di tengah pandemi Covid-19 setelah beberapa negara yang menerapkan aturan ketat pemakaian masker terbukti mampu menekan angka penularan Covid-19 (JP 4/4-2020). Itulah pentingnya memakai masker!

Karenanya, dokter harus memakai masker ketika menjalankan tugasnya. Buat keselamatan jiwa pasien dan jiwanya sendiri. Tapi, belakangan ini sejak pandemi Covid-19, ada sejumlah dokter dan perawat kita (Indonesia) tak mengenakan masker. Ini terpaksa dilakukan karena persediaan masker di rumah sakit sudah tipis jika tak bisa dikata habis. Apalagi di Puskesmas, khususnya Puskesmas yang jauh dari kota.

Demi keselaman jiwanya, para dokter pun berusaha membeli masker secara mandiri. Merogoh kantongnya sendiri. Maklum, menunggu bantuan dari pemerintah pusat juga tak kunjung datang. Sedang ancaman terpapar Covid-19 sudah di pelupuk mata. Terbukti, sudah banyak dokter dan tenaga medis meninggal dunia saat menjalankan tugas, khususnya saat menolong pasien Covid-19.

Berdasarkan catatan WHO pekan lalu, saat Italia terjadi pandemi Covid-19, tercatat 4.826 dokter dan perawat di negara spaghetti itu terjangkit Covid-19. Di Indonesia (Jakarta), ada 25 dokter positif Covid-19. Enam dokter dari jumlah itu sudah meninggal dunia. Sekarang, mungkin, jumlah dokter meninggal sudah bertambah di Jakarta. Mungkin. Tapi, semoga tidak.

Begitu rentannya terpapar Covid-19, para dokter pun cepat berusaha membeli masker. Untuk melindungi diri, pasien, dan keluarganya di rumah. Dokter juga memiliki hak hidup. Begitu pula keluarganya. Tapi, belakangan masker sulit didapat. Akhirnya, mengenakan APD seadanya atau pakai masker daur ulang. Dipakai berulang-ulang.

Para dokter mengaku sudah muter-muter dan munyer-munyer mencari masker tak berhasil mendapatkannya. Apotek dan toko alat kesehatan (Alkes) kosong. Tidak memiliki masker. Entah kemana raibnya? Mungkin sudah habis dibeli warga atau diborong oleh para oknum untuk ditimbun. Jika masker habis dibeli warga sebagai pelindung diri, itu sangat bagus. Berarti angka penularan Covid-19 bisa terkurangi. Tapi, sungguh celaka jika masker itu jatuh ke tangan oknum penimbun. Hal itu akan membuat masker jadi langka dan sangat mahal harganya. Warga bisa tak mampu membeli masker.

Dengan banyaknya warga tak memakai masker, maka banyak warga akan terpapar Covid-19. Apalagi, jika mereka juga tidak patuh terhadap imbauan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah. Mereka masih suka kluyuran dan kumpul-kumpul di warung atau cafe. Fenomena ini akan membuat angka penularan kian bertambah banyak. Dengan kian banyaknya kasus positif Covid-19 itu, berarti akan banyak pula dokter dan tenaga medis yang terancam jiwanya.

Apalagi, jika di dalam menjalankan tugasnya mereka tidak dilengkapi dengan APD yang memadai. Padahal, dokter dan tenaga medis itu berada di garda depan dalam menanggulangi Covid-19. Berhadapan langsung dengan Covid-19. Berhadapan langsung dengan ancaman kematian.

Atas jasanya dalam bersabung nyawa itu kini dokter dan tenaga medis dipuja-puja. Bukan sekadar sebagai pahlawan, tapi bak dewa. Di Wuhan China, misalnya, konon sekarang banyak warganya yang hormat kepada dokter. Bahkan ada yang bersujud jika ada dokter sedang lewat di jalan saat pulang dari rumah sakit. Dokter dianggap sebagai “penyelamat” nyawa mereka. Penyelamat dari Covid-19. Begitu pula warga di negara-negara Eropa. Di Spanyol dan Italia, dokter dianggap “nabi”. Dokter dipuja-puji.

Berbagai apresiasi warga untuk dokter dan tenaga medis hingga kini terus mengalir. Mulai dari sekadar ucapan terima kasih, ungkapan kekaguman, gubahan lagu dan mencipta puisi untuk dokter. Pun terus berdatangan kiriman rangkaian bunga, aneka kue dan menu makanan, serta donasi ADP. Tapi, di negeri ini belum begitu menggema apresiasi warga untuk dokter dan tenaga medis? Masih sepi dan sunyi. Jauh dari gaung. Padahal, mereka ada yang bersabung nyawa dengan minim APD. Mengapa?

Mungkin di antara warga masih memenuhi seruan pemerintah tetap di rumah. Juga mungkin takut keluar rumah karena tidak memiliki masker. Meskipun sepi dan sunyi apresiasi, penulis yakin di antara warga kini tetap di rumah dengan selalu menggemakan doa kepada dokter dan tenaga medis selalu dilindungi Allah. Diberi panjang umur dan sehat. Semua yang positif corona semuanya sembuh. Semoga virus segera hilang. Kehidupan bisa normal kembali dan beraktivitas tanpa masker. Amin. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close