Madiun

Diyut Kecil Sering Main di Tangkis Kali Madiun

NAMA Serda Diyut Subandriyo masuk dalam daftar anak buah kapal (ABK) KRI Nanggala-402 yang dilaporkan hilang kontak di perairan Bali, Rabu (21/4). Kabar itu membuat Sartiningsih, ibunya sangat sedih. Seakan seperti sebuah mimpi yang sulit untuk diterima. Pasalnya, dia baru saja berjumpa anak kelimanya tersebut di Gang Menco, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo pada Minggu pagi (18/4).

Mereka bertemu lantaran Diyut mau meminta izin berangkat berlayar. Sartiningsih mengaku tidak ada firasat apapun ketika putranya itu paminta. ‘’Tangan saya diciumi dan minta doa untuk kelancaran tugas,’’ kata Sartiningsih, Kamis (22/4).

Baru setelah mendapati kabar kalau KRI Nanggala-402 hilang kontak, Sartini mulai dihinggapi perasaan tidak enak, tapi bukan firasat buruk. Dia bermimpi Diyut pulang ke rumah dengan mengenakan celana doreng dan seragam putih. ‘’Waktu ke sini itu (Minggu) cuma bilang kalau mau pamit latihan. Kemudian sempat bilang ke komandannya kalau seandainya ada apa-apa nanti jasadnya dibawa ke pangkuan ibu,’’ ungkap nenek 67 tahun tersebut.

Kata itu selalu diucapkan Diyut ketika akan pamit bertugas. Karena menurutnya, risiko tugas di laut cukup besar. Tapi, sebagai seorang ibu, Sartiningsih tetap mendoakan yang terbaik bagi Diyut. ‘’Saya berharap semoga cepat ketemu dan bisa pulang berkumpul kembali bersama keluarga,’’ harapnya.

Diketahui, Diyut adalah anak kelima dari enam bersaudara. Dia lahir pada 30 September 1984 dan pernah bersekolah di SMPN 7 dan SMK YP 17-1 Madiun. Sartiningsih mengaku ketika remaja kakaknya sering memojokkan Diyut karena latar belakang pendidikan. Tapi, hal itu justru menjadi penyemangat baginya untuk membuktikan diri.

Setelah tamat SMK sekitar 2004, Diyut coba peruntungan dengan mendaftar di Akademi Angkatan Laut (AAL) tapi gagal. Setahun berselang kesempatan menjadi Angkatan Laut baru didapatnya lewat sekolah bintara dan tamtama Kodiklatal. Dia juga pernah mengenyam pendidikan di Sekasel Surabaya. Sebelum akhirnya ditugaskan di KRI Nanggala-402 sejak 2011. ‘’Sejak kecil Diyut memang sudah bercita-cita ingin menjadi pelaut. Ketika seusia SD, dirinya malah senang bermain di tangkis Kali Madiun dan setiap pekannya berlatih renang di Purbaya,’’ terang Sartiningsih.

Diyut menikah dengan Helen pada 4 April 2009. Mereka kemudian dikaruniai dua anak. Dan, saat ini tinggal di Jalan Salak, Kelurahan/Kecamatan Taman bersama dengan mertua. Dalam kesehariannya, Diyut dikenal baik oleh tetangganya.

Tama, rekannya di Gang Menco bahkan menyebut Diyut termasuk orang yang dihormati karena menjadi guru pencak silat di lingkungannya. Dia juga termasuk hobi memelihara ayam jago. ‘’Jiwa sosialnya termasuk tinggi. Orangnya nggak neko-neko. Biasanya kalau pulang ke sini (Gang Menco) itu menyempatkan waktu untuk melatih anak-anak silat di gedung serba guna,’’ ujarnya.

Dia pun berharap agar Diyut bersama dengan rekannya di KRI Nanggalan-402 dapat segera ditemukan. Sehingga ke depan bisa berkumpul kembali. ‘’Semoga Mas Diyut bisa ditemukan dengan selamat dan dalam keadaan sehat,’’ harap Tama. (her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button