AdvertorialNgawi

Disperta Ngawi Kenalkan Koleksi Teknologi Alsintan

Gaet Milenial Muda Cintai Pertanian

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Modernisasi dalam dunia pertanian tidak dapat dihindarkan. Selain karena berkurangnya tenaga kerja pada sektor pertanian, regenerasi petani, dan sejumlah alasan lain, modernisasi pertanian memiliki banyak manfaat. Salah satunya kegiatan pertanian menjadi cukup efisien. Karena semua bisa dikerjakan dengan mesin.

Di sisi lain, modernisasi akan menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. ‘’Selama ini generasi muda pasti melihat aktivitas pertanian itu yang tradisional. Melalui modernisasi ini, mereka diharapkan tidak akan gengsi lagi (menggeluti dunia pertanian),’’ kata Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar usai mengikuti Gelar Teknologi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) di UPT Produksi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Madisari, Ngawi, Selasa (28/7).

Gelar teknologi alsintan dari dinas pertanian (disperta) setempat kemarin menjadi begitu penting. Terutama untuk mengenalkan generasi muda bahwa dunia pertanian itu ternyata keren. Hasilnya pun cukup menjanjikan karena memiliki pangsa pasar yang bagus. ‘’Dengan begitu, kami bisa meregenerasi anak muda supaya cinta kepada dunia pertanian,’’ ujarnya.

Dampak modernisasi pertanian memang akan menggusur tenaga kerja. Namun, itu hanya dampak sementara. Menurut Ony, melakukan regenerasi jauh lebih penting. Sebab, dunia pertanian Ngawi akan diambil alih pemodal besar ketika hal itu terlambat dilakukan. Sedangkan hilangnya pekerjaan akibat modernisasi dapat tergantikan dengan pekerjaan baru. ‘’Upaya modernisasi memang sangat dibutuhkan, tapi rohnya tetap mendorong kemandirian pertanian ramah lingkungan berkelanjutan,’’ tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Ngawi Marsudi mengatakan, ada beberapa tujuan dari kegiatan gelar teknologi alsintan dari Bidang Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan Disperta Selasa (28/7). Di antaranya mengenalkan teknologi alsintan pra dan pascapanen kepada petani untuk mendukung proses produksi. Juga untuk mengenalkan teknologi pembenihan dan budi daya tanaman pangan, hortikultura, serta perkebunan. ‘’Tujuan lainnya untuk mengenalkan pengembangan teknologi alsintan kepada generasi muda milenial kita, agar mereka juga mencintai dunia pertanian,’’ paparnya.

Kegiatan itu diikuti penyuluh pertanian lapangan (PPL), semua pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), dan unit pelayanan jasa alsintan (UPJA) se-Ngawi. Tidak hanya itu, hadir pula Kepala Bidang Informasi dan Jaringan Laboratorium Balai Besar Pengembangan dan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Tri Martini Patria.

Marsudi mengakui banyak bantuan alsintan dari pemerintah pusat selama ini. Namun, sebagian besar belum bisa dioptimalkan. Karena itu, pihaknya mendorong semua PPL tidak gagap teknologi (gaptek). Apalagi, sekarang modernisasi juga sudah menjadi tuntutan zaman. Seiring semakin sulitnya mencari tenaga kerja di bidang pertanian. ‘’Sebenarnya penerapan modernisasi pertanian itu sudah dilakukan di Ngawi, tapi kecepatannya yang harus ditingkatkan. Termasuk penguasaan teknologi informasi lainnya,’’ urainya.

Harapannya, modernisasi pertanian dapat mengurangi biaya produksi petani. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan nilai tambah. Hal itu juga yang diharapkan dari kerja sama pemkab dengan PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) beberapa waktu lalu. Supaya petani tidak hanya bergelut dalam produksi padi, tapi juga masuk ke wilayah pemasarannya. ‘’Target kami, paling tidak masalah kekurangan tenaga kerja di pertanian bisa diatasi dulu. Setelah itu regenerasi petani,’’ sebutnya. (tif/c1/odi/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close