AdvertorialMejayan

Disparpora Bimtek 17 Pokdarwis Belajar Manajemen Olah Sampah Wisata

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun punya prinsip. Orientasi objek wisata bukan sekadar keindahan dengan optimalnya sarana dan prasarana (sarpras) pendukung. Melainkan juga ditunjang kebersihan destinasi tersebut. Pedoman itu coba ditularkan kepada 17 kelompok sadar wisata (pokdarwis).

Belasan mitra kerja disparpora itu diberi bimbingan teknis (bimtek) tentang manajemen pengolahan sampah objek wisata. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dan berakhir Jumat lalu (21/2). Tidak tanggung-tanggung, pematerinya dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur. ‘’Ini langkah lanjutan dalam bentuk menghimpun sampah dengan sarpras yang sudah ada,’’ kata Kepala Disparpora Kabupaten Madiun Anang Sulistijono.

PRINSIP PENTING: Disparpora Kabupaten Madiun memberikan bimtek kepada perwakilan 17 pokdarwis beberapa waktu lalu.

Dia menyebut, objek wisata punya potensi memunculkan sampah yang cukup tinggi. Sebab, tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan. Padahal, kebersihan menjadi indikator penting keberlangsungan tempat wisata. ‘’Hasil evaluasi, kalau kumuh (tempat wisata, Red) semakin hari semakin berkurang pengunjungnya,’’ ungkap Anang.

Karenanya, belasan pokdarwis dibekali ilmu dan pelatihan. Mereka diharapkan bisa cakap dalam mengelola sampah di tempat wisata. Wisatawan akan nyaman tinggal bila sampah tertata dan terkelola dengan baik. Di sisi lain, keberadaan sampah bisa menjadi pundi-pundi rupiah. Baik untuk pokdarwis maupun masyarakat luas. ‘’Ke depannya kami akan bekerja sama dengan DLH untuk pengelolaan dan pengolahan sampah,’’ ujar mantan kepala dinas perdagangan, koperasi, dan usaha mikro (disperdakop-UM) tersebut.

Kasi Pengelolaan Sampah DLH Jatim Fauzi Bachtiar Ahmad angkat topi untuk disparpora. Kecenderungannya tempat wisata berfokus mengejar peningkatan angka wisatawan. Sedangkan sampah yang ditimbulkan malah dikesampingkan. Pengelolaan sesuai standardisasi tidak dijadikan skala prioritas. ‘’Langkah seperti ini sangat bagus,’’ ucapnya.

Fauzi menekankan, pengelolaan dan pengolahan sampah penting demi menghindari kerusakan lingkungan. Sebab, persoalan sampah tidak selesai hanya dengan diambil petugas. Sistem komposting adalah solusi menangani sampah organik di objek wisata. Sedangkan yang anorganik bisa dimanfaatkan sebagai pendapatan sejumlah kalangan. ‘’Pengelolaan seperti itu kami harapkan bisa diterapkan oleh warga di rumahan,’’ ujarnya. (den/c1/cor/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close