Madiun

Diserang Virus BPKC, Cengkih Tak Lagi Menjanjikan

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Bakteri pembuluh kayu cengkih (BPKC) mengancam eksistensi komoditas cengkih di Kabupaten Madiun. Dalam kurun lima tahun terakhir, luas lahan tanaman itu berkurang hingga 40 persen. ‘’Saat ini 1.795 hektare,’’ kata Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Muhammad Yasin Minggu (19/7).

Yasin menyebut, BPKC belum ada obatnya. Menebang pohon yang diserang adalah satu-satunya jalan agar serangan tidak semakin parah. Hal itu membuat luasan lahan menyusut. Tiadanya obat juga membuat jumlah petani cengkih semakin berkurang. ‘’Tahun ini tidak ada bantuan bibit cengkih dari pemkab atau Pemprov Jawa Timur,’’ ujarnya.

Disperta memberikan dua pilihan kepada petani cengkih. Pembibitan sendiri atau beralih ke kakao atau kopi. ‘’Untuk cengkih yang masih aman, sebaiknya jangan mengambil daun yang gugur. Karena virus BPKC bisa jadi masuk melalui akar yang tergores saat pengambilan daun,’’ terangnya.

Djarum Diyoko, petani cengkih Desa/Kecamatan Kare, menyebut pohon cengkih diserang BPKC sejak dua tahun lalu. Awalnya ditandai dedaunan mengering. Ranting tak lagi bertunas. Kemudian menjalar dari satu dahan ke lainnya. ‘’Satu dari dua cabang pohon milik saya sudah mati,’’ ungkapnya.

Menurut Djarum, penebangan pohon tidak 100 persen ampuh. Pasalnya, pohon cengkih ada yang mengering lalu mati. ‘’Awalnya tidak tahu kalau terserang BPKC. Sekarang sudah semakin parah, banyak cengkih ditebangi,’’ paparnya.

Di tengah kondisi sulit itu, harga jual cengkih tidak pro terhadap petani. Cengkih kering hanya laku Rp 57 ribu per kilogram dari normalnya Rp 75 ribu. ‘’Seumpama punya lahan luas, lebih baik tanam kakao yang lebih menjanjikan,’’ imbuh Purwandi, petani cengkih Desa Randualas, Kare.

Purwandi mengatakan, BPKC tidak hanya menyerang cengkih dewasa, tapi juga yang rata-rata berumur tujuh tahun. Harga jual juga tidak sebanding upah petik cengkih Rp 90 ribu per orang per hari. ‘’Cokelat berbuah tidak musiman. Kalau diperinci, biaya perawatan lebih murah. Tapi, butuh lahan luas,’’ terangnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close