Magetan

Disdikpora Magetan Harus Pemaparan Skenario ke GTPP Covid-19

Tindak Lanjuti SKB Tunggu Rekomendasi

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Penyesuaian Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri belum bisa ditindaklanjuti Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Magetan dalam waktu dekat.

Kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka boleh digelar di wilayah zona kuning, bukan lagi hijau. Belakangan, status kabupaten ini dalam peta epidemiologi Covid-19 menjadi berisiko rendah. ‘’Kami masih menunggu rekomendasi kepala daerah dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19,’’ kata Kabid Pendidikan Dasar SD dan SMP Disdikpora Magetan Suroso Rabu (12/8).

Pihaknya telah menyiapkan skenario penormalan pendidikan. Teknis pembelajaran peserta didik di kelas sesuai protokol kesehatan pandemi Covid-19. ‘’Kami harus memaparkan skenarionya di hadapan gugus tugas,’’ ujarnya.

KBM saat ini masih memakai metode virtual dan kunjungan guru. Untuk home visit, jumlah siswa dibatasi maksimal lima orang. ‘’Home visit untuk mengusir rasa bosan siswa selama KBM daring,’’ terangnya.

Juru Bicara GTPP Covid-19 Magetan Saif Muchlissun menyampaikan, penambahan kasus positif masih terus terjadi. Terlepas telah menjadi zona kuning. Kemarin, dua pasien baru terkonfirmasi terinfeksi korona. Sementara, pasien sembuh sembilan orang. ‘’Kami terus berupaya menekan persebaran dan menyembuhkan pasien,’’ tuturnya. (bel/c1/cor)

Parameter Usaha Kolam Renang Lebih Kompleks

USAHA kolam renang belum disentuh Tim Asesmen Kelayakan Operasional Usaha Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TAKOU GTPP) Covid-19 Magetan. Terbatasnya wawasan anggota tim mengenai seluk-beluk bisnis wisata itu menjadi musababnya. ‘’Parameternya lebih kompleks dibandingkan usaha wisata lain,’’ kata Ketua TAKOU GTPP Covid-19 Venly Tomi Nicholas Rabu (12/8).

Venly menyebut, belum ada riset valid mengenai penularan korona di dalam air. Di sisi lain, konsumen wisata kolam renang bukan hanya anak-anak, melainkan juga orang dewasa. ‘’Kami belum punya alat yang cocok untuk mengetahui sejauh mana aktivitas di kolam renang itu dinyatakan aman,’’ terangnya.

TAKOU tengah merumuskan parameter protokol kesehatan di kolam renang. Mulai higienitas air, kamar mandi, dan kafetaria. Bila rumusan itu disetujui Bupati Suprawoto, TAKOU baru berani melakukan asesmen. ‘’Kami sudah menerima pengajuan asesmen usaha kolam renang, tapi belum bisa terjun ke lapangan,’’ ujarnya.

Menurut Venly, penularan penyakit lewat air kolam cukup tinggi. Bukan hanya korona, tapi juga virus lainnya. Karenanya, usaha kolam renang dilarang beroperasi. Namun, pihaknya juga tidak tega membiarkan bisnis itu terkatung-katung. ‘’Mereka sudah keluar modal banyak dan tutup lebih dari lima bulan,’’ ucapnya. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close