Ngawi

Dipicu Luapan Air Bengawan Madiun, 15 Desa Terendam

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Musim penghujan mulai menebar ancaman. Sedikitnya 15 desa di lima kecamatan wilayah Ngawi timur terendam. Meski luapan air tidak sampai masuk ke rumah warga, mobilitas warga sempat tersendat lantaran beberapa ruas jalan tergenang. ‘’Genangan airnya tidak terlalu tinggi,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Teguh Puryadi Senin (2/11).

Teguh menyebut, banjir kemarin disebabkan meluapnya air Bengawan Madiun. Hal itu dipicu hujan deras di wilayah hulu sungai. Pun, pihaknya intens koordinasi dengan BPBD daerah tetangga maupun lembaga terkait di wilayah hulu sungai. ‘’Kalau debit Bengawan Madiun dan Bengawan Solo meningkat bersamaan, dampaknya ke Ngawi bisa lebih besar,’’ ujarnya.

Ditanya soal antisipasi banjir, Teguh mengaku pihaknya sudah menyiapkan sejumlah peralatan evakuasi dan menyiagakan relawan. Termasuk dari kalangan TNI dan Polri. ‘’Perlu dilakukan rakor (rapat koordinasi, Red) lintas sektoral untuk membahas langkah antisipasi banjir,’’ tuturnya.

Dia menambahkan, Ngawi barat juga merupakan wilayah rawan banjir. Namun, informasi yang diterima dari pos pantau Waduk Gajah Mungkur dan Jurug, Surakarta, debit air Bengawan Solo belum mengalami peningkatan signifikan. ‘’Jadi, masih aman,’’ tandasnya. (tif/c1/isd)

BMKG Sebut Pengaruh La Nina

BANJIR yang merendam belasan desa di Ngawi Senin (2/11) mengundang tanda tanya sebagian warga terdampak. Sebab, biasanya banjir baru terjadi saat puncak musim penghujan di kisaran Januari hingga Maret. Mengapa kali ini terjadi anomali?

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Malang Anung Suprayitno menjelaskan, peralihan musim biasanya dipengaruhi angin muson barat. Namun, kali ini dibarengi fenomena La Nina. ‘’Itu yang menyebabkan curah hujan pada awal musim penghujan meningkat. Durasinya juga lebih lama,’’ ujarnya.

Anung mengatakan, intensitas hujan yang tinggi diprediksi berakhir pada Desember mendatang, seiring pengaruh dari La Nina yang mulai menurun. Setelah itu, curah hujan kembali normal seperti pada musim penghujan tahun-tahun sebelumnya. ‘’Curah hujan bisa tetap tinggi, tapi durasinya lebih singkat seperti musim penghujan yang normal,’’ paparnya.

Sementara itu, banjir yang menggenangi sejumlah ruas jalan Desa Purwosari, Kwadungan, dimanfaatkan Semin, warga setempat, untuk mengais rezeki. Pria 51 tahun itu ‘’mengkaryakan’’ traktor miliknya untuk jasa penyeberangan motor yang terjebak banjir. ‘’Tarifnya sekali nyebrang Rp 15 ribu,’’ ujarnya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button