Madiun

Dipersoalkan, Belajar di Pos Ronda Diminta Berhenti

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kepedulian Binti Napsiah, 47, mendampingi belajar anak-anak SDN Brumbun dipersoalkan kalangan pendidik. Proses pembelajaran di poskamling Dusun Sukorejo, Brumbun, Wungu, Kabupaten Madiun, itu dinilai kurang tepat.

Sabtu (25/7), seorang guru SDN Brumbun mendatangi ibu dua anak itu. Meminta aktivitas belajar bersama yang telah berlangsung sebulan tersebut dihentikan. ‘’Tidak boleh belajar kelompok. Kata gurunya, aturan dari dinas pendidikan dan kebudayaan (dikbud),’’ kata Sugeng Winarso, warga setempat, Minggu (26/7).

Sugeng mengetahui kunjungan karena jarak rumah keduanya cukup dekat. Tidak sampai 500 meter. Dia menemani Binti selama ditegur guru bersangkutan. ‘’Sebagai orang tua dan warga, saya tidak setuju kalau diminta berhenti,’’ ujarnya.

Menurut Sugeng, apa yang dilakukan Binti tidak salah. Sebaliknya, perlu didukung. Dia merupakan relawan pendidikan karena tidak memungut biaya atas jasanya. Keberadaannya juga sangat membantu. Yakni, mengarahkan anak dalam menjawab soal.

Sosoknya menggantikan peran orang tua yang tidak bisa mendampingi anak karena berbagai hal. Seperti sibuk bekerja atau tidak paham materi pelajaran. Termasuk kesulitan belajar daring karena tidak bisa beli paket data internet. ‘’Bagaimana nasib anak-anak yang kesulitan belajar online?’’ tanyanya.

Kabid Pembinaan SD Dikbud Kabupaten Madiun Nur Arif mengatakan, belajar bersama di pos ronda tidak dianjurkan. Sebab, poskamling merupakan tempat umum. Anak-anak itu punya potensi tertular Covid-19. Kompetensi Binti memberikan pendampingan juga diragukan. ‘’Bukan bermaksud apa-apa. Tapi, cara penyampaian atau pemahaman materi sudah sesuai kurikulum tidak?’’ tukasnya.

Menurut Arif, siswa yang mengalami kesulitan bisa langsung bertanya ke guru. Nantinya akan ada kunjungan guru sepekan sekali. Guru menyambangi sekitar empat anak dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. ‘’Kami segera berkoordinasi dengan pemerintah desa atau sekolah untuk membahas mekanisme di lapangan,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Binti Napsiah, inisiator di balik kegiatan belajar-mengajar (KBM) di poskamling Dusun Sukorejo. Meski tidak punya titel sarjana pendidikan, dia kasihan dengan anak-anak yang tidak bisa bersekolah.

Binti memulai kelas poskamling sekitar sebulan lalu. Terinspirasi dari pengalaman anaknya yang masih kelas V SD. Anaknya terkesan ogah-ogahan saat diminta belajar di rumah. Dia lantas berinisiatif mengajak anaknya belajar bersama teman sebayanya di poskamling. Belakangan, aktivitas itu membuat mereka senang, mau belajar, dan mengerjakan tugas. (den/c1/cor)

Dewan Minta Utamakan Efektivitas Pembelajaran

KALANGAN dewan meminta adanya terobosan terhadap metode pembelajaran selama pandemi Covid-19. Kreasi diyakini bisa menjaga mutu pendidikan di tengah ketidakmaksimalan karena kegiatan belajar-mengajar (KBM) tidak bisa tatap muka. ‘’Yang perlu ditekankan adalah efektivitas pembelajaran,’’ kata Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Madiun Hari Puryadi Minggu (26/7).

Hari Pur, sapaan akrabnya, menyinggung kondisi geografis Kabupaten Madiun yang terdapat pegunungan. Siswa yang tinggal di kawasan itu biasanya kesulitan mengakses jaringan internet. Padahal, sinyal merupakan kebutuhan primer dalam melaksanakan KBM virtual. ‘’Jaringan internet yang tidak bagus menjadi momok pembelajaran daring,’’ ujarnya.

Mitra kerja dinas pendidikan dan kebudayaan (dikbud) itu telah meminta eksekutif untuk tidak memaksakan 100 persen KBM daring. Sebagai gantinya, mengoptimalkan pembelajaran luar jaringan (luring). ‘’Misalnya, menjadwalkan guru melakukan kunjungan ke tempat tinggal anak didiknya. Karena KBM tatap muka belum diperbolehkan,’’ paparnya.

Hari Pur juga meminta dikbud melakukan pendataan para siswa yang tidak punya sarana dan prasarana KBM daring. Mulai gadget dan kemampuan membeli kuota internet. Jumlah dan titiknya harus jelas. ‘’Para siswa yang terkendala itu dikoordinasi untuk dicarikan solusi agar hak pendidikan tidak terampas,’’ tegas politikus Partai Demokrat tersebut.

Dia menuturkan, kesehatan tetap diutamakan di masa transisi adaptasi kebiasaan baru (AKB). Pihaknya memaklumi bila ada bagian kurikulum yang tidak bisa terpenuhi. ‘’Tapi, pemerintah tidak boleh pasrah dengan keadaan. Peluang atau solusi terkait pembelajaran daring harus dimaksimalkan,’’ tandasnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close