Magetan

Dinsos Magetan Hanya Bisa Pulangkan PL-PSK ”Impor”

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Banyak rumah kos di Magetan dihuni pemandu lagu (PL) dan pekerja seks komersial (PSK). Dinas kesehatan (dinkes) setempat kesulitan mengontrol kondisi kesehatan mereka. Padahal, mereka termasuk kelompok berisiko tinggi menularkan penyakit berbahaya. Dinas sosial (dinsos) pun tak bisa berbuat banyak.

Saat penertiban rumah kos di Jalan Kepolorejo bulan lalu, misalnya. Satpol PP-damkar  mengamankan dua pasangan mesum.  Namun, tidak langsung dikoordinasikan dengan dinsos. Setelah mendapat data, para oknum tergaruk itu bukan warga Magetan. ‘’Hasil penertiban bulan lalu itu tidak diserahkan ke kami,’’ kata Kepala Dinsos Magetan Yayuk Sri Rahayu Senin (3/2).

Menurut dia, penanganan para pelaku prostitusi ”impor” memang membutuhkan koordinasi antardaerah. Sebab, rehabilitasi tidak dilakukan daerah tempat praktik mereka. Rupanya, saat itu korps penegak perda langsung memulangkan  para oknum mesum tersebut ke daerah asal masing-masing.

Karena bukan warga Magetan, mereka tidak bisa menjalani rehabilitasi di Magetan. Kalaupun direhabilitasi di daerah masing-masing dan kembali ke Magetan, belum tentu bertobat atau memilih pekerjaan halal. ‘’Kami tidak bisa menjamin, karena bukan kami yang merehabilitasi,’’ ujarnya.

Bahkan, warga asli Magetan pun tidak mudah disembuhkan. Contohnya, penutupan lokalisasi PSK Madusari alias Baben, Maospati, akhir Desember 2013 silam. Upaya itu didanai pemkab dan pemprov. Duit dari pemkab sebagai modal usaha untuk alih profesi. Sedangkan dari pemprov dirupakan bantuan peralatan usaha.

Bahkan, para penghuni lokalisasi sudah disiapkan untuk alih profesi sejak 2010. Mereka mendapat bimbingan dan pelatihan. Pun meminta mereka mulai menabung untuk modal usaha setelah mentas dari lembah hitam. ‘’Waktu itu total ada 78 orang.  Hanya sekitar 29 orang warga asli Magetan,’’ sebutnya.

Pemkab tidak bisa membongkar bangunan di Madusari itu. Sebab, tanah berikut bangunan milik pribadi. Namun, disalahgunakan. Bukan untuk tempat tinggal, melainkan untuk tempat prostitusi.  ‘’Selama tiga tahun kami berikan pengertian, pelatihan, dan penekanan agar mereka beralih profesi,’’ ungkapnya. (fat/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close