AdvertorialNgawi

Dinsos Berdayakan Peternak Perkutut

Bentuk Lima Kube Rintisan di Pelang Lor

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Beternak burung perkutut sangat menjanjikan. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, pangsa pasar jenis kicauan tersebut masih terbuka lebar. ‘’Karena itu, tahun ini dibentuk lima Kube (kelompok usaha bersama, Red) rintisan dengan kegiatan peternakan burung perkutut di Desa Pelang Lor, Kedunggalar,’’ kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Ngawi Tri Pujo Handono Senin (23/11).

Tri Pujo menyebut, saat ini di Ngawi terdapat 152 Kube. Dari jumlah itu, 90 di antaranya dibentuk tahun ini. Termasuk lima Kube rintisan peternakan burung perkutut di Pelang Lor tersebut. ‘’Meskipun sedang pandemi Covid-19, tapi bantuan usaha dari Kementerian Sosial untuk 90 Kube di Ngawi tahun ini tetap dicairkan full,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, Kube rintisan peternakan burung perkutut sengaja dibentuk setelah melihat perkembangan bagus budi daya jenis unggas tersebut di Desa Pelang Lor. ‘’Dari lima Kube itu mampu memberdayakan 50 anggota yang merupakan warga setempat. Saat ini sudah jalan sekitar tiga bulan,’’ paparnya.

Tri Pujo mengatakan, setiap kelompok mendapat modal usaha Rp 20 juta yang diwujudkan kandang dan 20 pasang burung indukan. Kini, masing-masing kelompok sudah mampu menghasilkan omzet Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per bulan. ‘’Untuk saat ini, satu usaha memang masih untuk satu kelompok. Tapi ke depan kami berharap masing-masing anggota bisa memiliki budi daya sendiri dari hasil kelompok itu,’’ tuturnya.

Yuda Septian, salah seorang peternak, menyebut, dalam satu tahun burung perkutut mampu bertelur hingga enam kali. Sedangkan harga jualnya mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 300 ribu per ekor, tergantung jenis dan usianya. ‘’Penjualannya sudah ke berbagai daerah di Jawa dan Bali,’’ ujarnya. ‘’Hasil peternakan sekarang masih belum bisa memenuhi kebutuhan pasar, jadi masih sangat potensial dikembangkan,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pelang Lor Hariyana mengatakan bahwa usaha budi daya burung perkutut muncul sejak 2000-an. Pada 2019 lalu, pihaknya menetapkan jenis burung itu sebagai produk unggulan desanya. ‘’Sekarang sudah 60 persen warga sini mengembangkan usaha ternak perkutut. Saya sendiri bisa mencalonkan kepala desa dari hasil beternak perkutut,’’ ungkapnya. (tif/c1/isd/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button