Advertorial

Dinkes Optimalkan Upaya Pencegahan HIV/AIDS

Kejar Status 3 Zero pada 2030

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Peringatan Hari AIDS Sedunia dimanfaatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi untuk merapatkan barisan terkait pencegahan HIV/AIDS. ‘’Kami kumpulkan programmer (HIV/AIDS) se-Ngawi dengan tujuan melanjutkan komitmen untuk mencapai eliminasi HIV/AIDS 2030 atau 3 zero,’’ kata Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Ngawi Jaswadi Senin (30/11).

Jaswadi menjelaskan, pemerintah menargetkan status 3 zero itu terwujud pada 2030 mendatang. Zero pertama, nihil temuan penderita HIV/AIDS baru. Zero kedua, tidak ada lagi diskriminasi di masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sedangkan zero ketiga, angka pasien meninggal akibat HIV/AIDS nol. ‘’Untuk mewujudkan itu, pemerintah telah menetapkan program fast track 90.90.90 yang harus tercapai pada 2027 nanti,’’ ungkapnya.

Program fast track 90.90.90 itu yang ditekankan kepada seluruh programmer HIV/AIDS di Ngawi. Mereka ditugaskan mengawal program tersebut sampai berhasil. Lalu, apa maksud fast track 90.90.90 itu? Jaswadi menjelaskan, 90 pertama yakni 90 persen orang yang menderita HIV/AIDS harus tahu statusnya. ‘’Kami sudah punya 5 ribu sasaran yang akan diperiksa. Tahun 2027 nanti (dari 5 ribu sasaran), 90 persen harus sudah diketahui statusnya,’’ papar Jaswadi.

Sedangkan 90 kedua adalah dari jumlah ODHA di Ngawi, 90 persen harus bisa terobati dengan ARV antiretroviral pada 2027 mendatang. Jaswadi mengklaim, saat ini dari seluruh penderita HIV/AIDS di Bumi Orek-Orek, 70 persen sudah mendapatkan pengobatan ARV antiretroviral. ‘’Kami akan terus optimalkan supaya target 90 persen itu bisa terpenuhi,’’ janjinya.

Sementara, 90 ketiga adalah 90 persen ODHA yang mendapatkan pengobatan ARV antiretroviral bisa mengetahui supresinya. Yakni, viral load atau daya tahan tubuhnya sudah benar-benar meningkat yang artinya telah sembuh. ‘’Itu yang sedang kami kerjakan sekarang,’’ tuturnya.

Selain dibantu tenaga programmer HIV/AIDS, pihaknya menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Surabaya dan Kediri. Kerja sama itu untuk meningkatkan jangkauan dinkes terhadap penderita yang tidak terdeteksi maupun pemetaan populasi kunci persebaran HIV/AIDS. (tif/c1/isd/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button