Madiun

Diduga Menimbun Gula, Mat Rochani Bingung

Jatah Gula Pasir dari PG Pagotan Digaris Polisi

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Gula yang diperjualbelikan Mat Rochani digaris polisi. Di tengah gejolak harga komoditas bahan pokok di pasaran, pria 51 tahun asal Desa Slambur, Kecamatan Geger, itu diduga menimbun 4,8 ton gula pasir.

Kapolres Madiun AKBP Eddwi Kurniyanto menyatakan bahwa Mat Rochani telah menabrak regulasi perdagangan. ‘’Dari hasil intelijen yang sudah berjalan, kami tindak lanjuti melalui jajaran satreskrim,’’ kata kapolres Kamis (19/3).

Rabu petang (18/3), Satreskrim Polres Madiun mendatangi toko pakan burung milik Mat Rochani di penggal Jalan Madiun–Ponorogo itu. Petugas langsung melakukan penggeledahan. Kecurigaan muncul dari keberadaan tumpukan karung yang diselimuti terpal. Setelah diperiksa, didapati 87 sak gula pasir ukuran 50 kilogram. Garis polisi pun dibentangkan. ‘’Tokonya menjual pakan burung. Dia tidak memiliki izin usaha perdagangan (menjual gula),’’ ujar kapolres.

Berton gula pasir itu didapatkan Mat Rochani dari PG Pagotan. Kapolres menyebut bahwa Mat Rochani merupakan salah satu petani tebu di PG Pagotan. ‘’Mulai Juni 2019 dia mendapatkan jatah gula pasir sebanyak 20 ton. Diambil bertahap, sebagian besar sudah terjual dan saat ini tinggal 4,8 ton. Dijual Rp 15.200 per kilogram, di atas HET (harga eceran tertinggi, Red) Rp 12.500 per kilogram,’’ urai kapolres.

Dugaan polisi, Mat Rochani sengaja melakukan pengambilan gula pasir yang menjadi hak petani tebu PG Pagotan setelah mengetahui gejolak harga di pasaran. Selain menggaris tumpukan sak gula pasir, polisi juga mengamankan satu bendel surat perintah pengeluaran gula milik petani tebu rakyat. ‘’Dia mengambil (gula pasir) sesuai kesepakatan. Pabrik juga akan kami mintai keterangan,’’ imbuh kapolres.

Sementara itu, Mat Rochani menampik jika dirinya disebut telah menimbun. Puluhan ton gula pasir yang dia miliki bukanlah hasil dari membeli ke PG Pagotan. Namun, 20 ton gula pasir itu merupakan bagi hasil yang diterapkan pihak pabrik terhadap petani tebu. Itu bagian dari kesepakatan saat masa giling. ‘’Gula yang ada sekarang ini, saya ambilnya lima hari lalu. Jualnya Rp 15.200 per kilogram. Biasanya untuk keperluan arisan lingkungan. Di depan toko juga saya beri papan bertuliskan jual gula pasir,’’ katanya.

Mat Rochani telah berjualan gula pasir sejak 2017 silam. Dijelaskannya, petani bebas untuk mengambil jatah bagi hasil dari gula pasir. Batas pengambilannya pada musim giling berikutnya. Saat ditanya mengapa baru mengambil jatah bagi hasil ketika ada gejolak harga di pasaran, Mat Rochani angkat bahu. ‘’Kenapa saya sendiri? Padahal banyak petani lain yang juga menjual jatah bagi hasil dari pabrik,’’ ucap Mat Rochani heran karena sebelumnya tak ada penindakan. ‘’Jadi takut tanam tebu kalau seperti ini. Mudah-mudahan pemerintah adil,’’ imbuhnya. (den/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button