Magetan

Dicari Pembeli Tajir Melintir

Hotel Sarangan Tidak Laku di Bawah Rp 20 Miliar

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Berada di kawasan Telaga Sarangan tidak membuat Hotel Sarangan cepat laku. Penginapan megah seluas 7.429 hektare itu belum juga terjual sejak dipromosikan beberapa tahun lalu.

Banderol yang fantastis bisa menjadi musababnya. Di sebuah forum jual-beli, seorang netizen mengunggah harga Rp 22 miliar untuk bangunan yang diklaim didirikan di zaman kolonial Belanda itu. ‘’Hotel ini memang dijual, tapi itu (posting-an, Red) bukan dari pihak kami,’’ kata Pipit, resepsionis Hotel Sarangan, Senin (12/10).

Pipit menyebut, pemilik berniat menjual hotel sejak beberapa tahun lalu. Namun, harganya tidak semurah yang terpampang di media sosial (medsos) itu. Sepertinya, pembelinya harus orang tajir melintir. ‘’Karena ada tawaran Rp 23 miliar atau Rp 25 miliar tak diiyakan,’’ ujarnya.

Dia menilai Hotel Sarangan bersejarah. Arsitektur bangunan khas Belanda menjadi buktinya. Riwayatnya tercantum dalam buku berbahasa Belanda yang dimiliki hotel. Dalam buku itu, kata Pipit, nama asli hotel diperkirakan Hakone dan Grand Hotel Sarangan. ‘’Sesuai keterangan foto, berdiri sejak 1919. Tapi, pembangunan persisnya kapan, kurang tahu,’’ ucapnya.

Sementara, Juli Bakhtiar, penjual Hotel Sarangan di medsos, itu mengaku hanya pihak kuasa jual. Cerita bermula ketika bertemu seseorang yang ingin membeli hotel Juli lalu. Dirinya menawarkan sebagai perantara. ‘’Karena orang itu bingung harus menghubungi siapa,’’ katanya dihubungi via sambungan telepon.

Setelah bertemu dengan pemilik hotel, Bakhtiar diminta membuat surat kuasa penjualan. Namun, setelah dibuat, calon pembeli tadi menghilang. ‘’Akhirnya, saya posting di medsos,’’ ujarnya. (odi/c1/cor)

Bukan Tidak Mungkin Dibeli Pemkab

PEMKAB Magetan bakal melakukan pendekatan ke pemilik Hotel Sarangan. Bukan melarang menjualnya, melainkan meminta mempertahankan arsitektur bangunan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan Joko Trihono mengatakan, upaya mempertahankan arsitektur penting. Supaya sejarah bangunan bisa tersimpan lebih lama. ‘’Hotel ini sepertinya sudah masuk dalam situs cagar budaya,’’ katanya Senin (12/10).

Joko merujuk Undang-Undang (UU) 11/2010 tentang Cagar Budaya. Kriteria bangunan cagar budaya mewakili masa gaya paling singkat 50 tahun. Tempo itu punya arti khusus terhadap sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, atau kebudayaan. ‘’Juga nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa,’’ ujarnya.

Disinggung kemungkinan Hotel Sarangan dibeli pemkab, Joko enggan berspekulasi. Meski minim, kemungkinan itu tetap ada. Sebab, Bupati Suprawoto menyukai sejarah. ‘’Kami perlu konsultasi ke Pak Bupati,’’ ucapnya. (odi/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close