features

Di Balik Perjalanan Karir AKP Fatah Meilana di Kepolisian

Pernah Keleleran Tiga Jam Tunggu ’’Taksi’’ di Bandara

Hobi ngeband saat masih remaja, siapa sangka Fatah Meilana akhirnya menjadi anggota Polri. Pun, pangkat AKP kini tersemat di depan namanya. Bagaimana perjalanan karirnya di korps baju cokelat hingga saat ini menjabat Kasatreskrim Polres Madiun Kota?

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

PERJALANAN karir AKP Fatah Meilana di kepolisian dimulai setelah lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) pada 2013 silam. Kala itu dia langsung ditugaskan di Polda Papua sebagai kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (KSPKT) Polres Jayapura.

Tiga bulan berselang, pria kelahiran Demak pada 10 Mei 1991 itu dipercaya sebagai KBO satreskrim, masih di polres yang sama. Kemudian, sempat menjabat Pjs Kasatnarkoba sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Kapolsek Nimbokrang, Jayapura.

Tidak berselang lama, Fatah diberi tugas baru sebagai Kanitreskrim Polsekta Abepura. Lalu, Kasatreskrim Polres Keerom hingga Desember 2019 sebelum akhirnya dipindahtugaskan ke Kota Madiun. ‘’Setiap jabatan ada tugas, wewenang, dan tanggung jawab. Selama berpedoman dengan aturan yang melekat dalam jabatan, insya Allah tidak ada kesulitan,’’ tuturnya.

Ada cerita lucu saat Fatah kali pertama tiba di Papua. Begitu turun dari pesawat di bandara, sesuai instruksi dia menunggu taksi yang hendak ditumpangi ke tujuan. Namun, hingga tiga jam ditunggu, tak satu pun taksi yang melintas. Usut punya usut, istilah taksi di Papua adalah angkot. ‘’Kalau angkot, sejak saya tiba banyak berseliweran. Tapi, yang ada di benak saya taksi seperti di kota-kota besar,’’ kenang suami Inggrid Widya Pitaloka itu.

Selama bertugas di Papua, anak kedua dari tiga bersaudara itu telah berhasil mengungkap banyak kasus kriminalitas. Mulai pembunuhan hingga curanmor dengan modus ditukar ganja di wilayah perbatasan Papua Nugini. Pun, beberapa kali Fatah terlibat dalam proses perdamaian saat ada konflik antarsuku. ‘’Setelah konflik selesai, sebagai tanda sudah damai biasanya ada acara bakar batu, semacam syukuran,’’ terangnya.

Hal serupa terjadi selama Fatah bertugas di Kota Madiun. Pria yang hobi main gitar itu berhasil mengungkap banyak kasus. Pada Maret 2020 lalu saat kali pertama Covid-19 mewabah, misalnya, dia sukses membongkar penimbunan masker. Dia juga berhasil mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan (curat) dengan pelakunya residivis asal Wonogiri, Jawa Tengah. (*/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button