MadiunSport

Di Balik Moncernya Atlet Angkat Besi Kota Madiun di Kejurprov

Latihan di Bekas Ruang Kelas dengan Fasilitas Seadanya

Sarana latihan yang jauh dari kata layak tidak menjadi penghalang bagi atlet angkat besi Kota Madiun untuk meraih prestasi. Dua pekan lalu tim Kota Pendekar berhasil meraih juara umum kejurprov di Ngawi. Apa rahasianya?

===================

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

DI sebuah ruang kelas bekas bangunan SMP 12 Kota Madiun Jalan Jawa sore itu 10 remaja tampak sibuk latihan angkat besi. Mereka bergantian mengangkat barbel dengan teknik clean and jerk dan snatch.

Itu pula yang dilakukan Slamet Siswanto, salah seorang atlet. Remaja tersebut mengangkat beban dari lantai sampai batas dadanya dengan posisi jongkok. Setelah itu, mengambil ancang-ancang untuk mengangkat barbel sampai kedua tangannya lurus dengan posisi sempurna.

Meski berlatih di tempat yang jauh dari kata layak dan fasilitas seadanya, mereka tetap terlihat bersemangat. Setelah berkutat dengan sejumlah peranti angkat besi selama tiga jam, barulah latihan disudahi. ”Tidak menyangka anak-anak yang tubuhnya masih kerempeng itu mampu meraih medali emas,’’ ucap Ketua Umum Persatuan Angkat Besi, Berat, Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) Kota Madiun Sugeng Budi Sutiyono.

Ya, kontingen Kota Madiun membuat kejutan pada kejurprov di Ngawi dua pekan lalu dengan raihan predikat juara umum. Itu setelah Slamet Siswanto, Ahmad Susilo, dan Binaya Januari Wibowo, masing-masing menyumbang tiga emas. Sedangkan Mohammad Fajar Nuriman meraih dua perak dan satu perunggu. Sementara, Triya Maulana tiga perak, Diva Margareta dua perak dan satu perunggu, serta Aulia Triwulansari tiga perunggu.

Sukses di ajang pemanasan sebelum porprov itu tidak terlepas dari persiapan yang dilakukan PABBSI Kota Madiun. Enam bulan sebelum kejurprov, para atlet sudah digembleng latihan keras. ”Beberapa minggu sebelum kejuaraan kami mendatangkan pelatih yang bersertifikat nasional dari Malang,’’ ungkap Sugeng.

Raihan sembilan emas, tujuh perak, dan lima perunggu di kejurnas itu sungguh di luar dugaan. Pasalnya, atlet yang dikirim baru sekitar satu tahun berlatih angkat besi. Padahal, untuk mendapat hasil maksimal biasanya membutuhkan proses latihan kurang lebih tiga tahun.

Mereka juga berlatih dengan fasilitas kurang layak. Barbel, misalnya, sebagian dalam kondisi rusak. Beruntung, belakangan pemkot memberi bantuan sebesar Rp 33 juta yang dimanfaatkan untuk membeli barbel bekas di Kediri. ”Untuk tempat latihan kami masih menunggu rencana KONI memusatkan latihan semua cabor di sekitar Stadion Wilis,’’ ujarnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close