Ngawi

Derita Petani Kandangan yang Padinya Ambruk Diterjang Hujan-Angin

Padi merugi karena padi. Semringah di wajahnya berganti murung lantaran tanaman padinya ambruk kena terjang hujan-angin. Kurang sepekan lagi panen, sehektare lahan padi miliknya berubah menjadi seperti lapangan.

———————

PEMANDANGAN berbeda terlihat di lahan penggal Jalan Supriyadi masuk Desa Kandangan, Ngawi. Banyak padi yang ambruk akibat diterpa hujan-angin. Di sebuah gubuk di tengah hamparan tanaman yang roboh, seorang petani bernama Padi bersama istrinya tampak sibuk. Keduanya membentangkan selembar terpal ke atap gubuk. ‘’Juga rusak kena angin kemarin malam,’’ kata Padi.

Rampung memperbaiki atas gubuk, Padi turun ke sawah. Dia memandangi tanaman padi miliknya yang ambruk semua dengan ekspresi kesedihan. ‘’Kalau roboh seperti ini sudah pasti susut hasilnya,’’ ujar pria 56 tahun warga Dusun Tengger, Desa Kandangan, Ngawi, itu.

Sembari menatap sawahnya yang sudah seperti lapangan, Padi menaksir panenannya kali ini. Mendapatkan gabah empat ton saja dibilangnya sudah baik menilik kondisi padi yang rata dengan tanah. Bayang-bayang kerugian sudah ada di depan mata. Padahal, sebelumnya meyakini bakal panen besar lantaran tanamannya tumbuh subur. ‘’Hasilnya bagus sebenarnya, padi jenis sunggal ini,’’  ungkapnya.

Budi daya padi musim ini memang tidak memberi hoki kepada Padi. Jerih payah mulai berpanas-panas di bawah terik sampai kedinginan saat hujan, nyaris sirna dalam sekejap. Padahal, dia sudah mengeluarkan modal tidak sedikit.

Padi sudah menghabiskan biaya tak kurang dari Rp 3 juta. Itu belum termasuk tenaga yang dikeluarkan serta beragam pestisida yang harganya cukup menguras isi kantong. ‘’Macam-macam obatnya. Paling tidak lima hari sekali harus disemprot supaya aman dari wereng dan jamur,’’ tuturnya.

Tiga bulan lamanya Padi ngopeni padi. Dari yang semula sebatang bibit padi, sampai menjadi rumpun lantas mengeluarkan ratusan bulir. Demi mendapatkan untung yang lumayan, Padi sengaja tidak mempekerjakan orang lain untuk menggarap sawahnya. ‘’Saya kerjakan sendiri semuanya untuk mengirit biaya,’’ kata Padi.

Menguras tabungan atau berutang menjadi pilihan Padi untuk musim tanam berikutnya. Maklum, selain karena isi padi kurang bernas lantaran ambruk, kerugian lain juga bakal datang saat panen nanti. ‘’Biaya babat padi ambruk lebih mahal daripada yang normal. Kalau biasanya Rp 600 ribu, bisa lebih dari Rp 800 ribu habisnya. Lebih susah dibabat padi ambruk itu,’’ ujarnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button