features

Demi Usaha Sandal Ukir, Pria Ngawi Ini Pilih Berhenti Kuliah dan Lepas Status Guru Honorer

Keputusan Wahyu Tristianto resign dari pekerjaannya sebagai guru honorer terbilang perjudian besar. Namun, keputusan tersebut ternyata tidak keliru. Pria 32 tahun itu kini sukses menekuni usaha sandal ukir. Pun, karyanya telah merambah pasar hingga luar pulau.

Hery Purwanto, Jawa Pos Radar Ngawi

DENGAN hati-hati Wahyu Tristianto menggoreskan tulisan di atas sandal jepit yang telah dilepas talinya itu menggunakan ujung pensil. Setelah selesai, pria itu ganti mencongkel bagian tepinya dengan cutter hingga tulisan ‘’Masih Kredit’’ di sandal terlihat dengan jelas. ‘’Sehari bisa menghasilkan tiga sampai lima sandal ukir,’’ ujarnya.

Kepiawaian Wahyu membuat sandal ukir tidak terlepas dari kebiasaannya menggambar saat duduk di bangku kuliah. Namun, kala itu warga Desa/Kecamatan Sine tersebut belum berpikir menjadikannya sebagai sumber penghasilan.

Baru pada akhir 2015 Wahyu dibantu teman asal Jepara, Jawa Tengah, fokus membuat sandal ukir. Selain alas kaki, bapak dua anak itu juga menyulap sandal menjadi kado pernikahan dan ulang tahun, hiasan dinding, serta beberapa barang kerajinan unik lainnya. ‘’Belajar otodidak, lihat video tutorial di internet,’’ ungkapnya.

Tidak disangka, produk sandal ukir buatannya diminati pasar. Bahkan, Wahyu nekat tidak melanjutkan kuliah maupun bekerja sebagai guru honorer dan memilih fokus menekuni usaha kerajinan berbahan baku sandal jepit. ‘’Memahami teorinya cukup mudah, yang butuh waktu agak lama itu proses menghasilkan sandal jepit ukir yang rapi dan halus,’’ sebutnya.

Seiring berjalannya waktu, motif sandal ukir Wahyu semakin bervariasi. Mulai sekadar tulisan, kartun seperti Doraemon dan Naruto, hingga wajah kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. ‘’Satu tahun terakhir kami lebih banyak menggarap produk custom sesuai keinginan pemesan,’’ terangnya.

Wahyu membanderol sandal ukir karyanya dengan harga bervariasi pula, tergantung tingkat kesulitan pembuatan dan pernak-perniknya. Yakni, mulai Rp 23 ribu hingga paling mahal Rp 130 ribu. Pun, produknya sudah merambah pasar hingga Sumatera dan Papua. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button