AdvertorialNgawi

Demi Suci Ruh Ngawi, Empat Piandel Bumi Orek-Orek Dijamas

NGAWI – Suasana sakral terasa kental di Pendapa Wedya Graha Senin sore (1/7). Itu bersamaan prosesi jamasan pusaka yang merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi ke-661 Ngawi. ‘’Ini (jamasan, Red) merupakan agenda rutin setiap momen hari jadi,’’ kata Bupati Budi ‘Kanang’ Sulistyono Senin (1/7).

Ada empat pusaka yang dijamas kemarin. Wujudnya berupa dua tombak dan dua songsong (payung). Yakni, tombak Kiai Singkir dan Kiai Songgolangit serta songsong agung Tunggul Warono dan Tunggul Wulung.

Menurut Kanang, meski secara visual proses jamasan tersebut sekadar mencuci pusaka, tradisi itu memiliki filosofi kuat. ‘’Secara filosofis, pusaka itu adalah ruh Kabupaten Ngawi. Jadi, jamasan ini maknanya menyucikan kembali ruh Ngawi,’’ tuturnya.

Kanang menyebut, ritual jamasan pusaka itu sekaligus diharapkan menjadi pengingat perjuangan para pendiri Ngawi di masa lampau. ‘’Supaya kita tidak lupa sejarah. Ngawi itu tidak berdiri begitu saja, tapi berkat perjuangan para pendirinya,’’ ujar bupati dua periode ini.

Kegiatan jamasan pusaka kemarin menjadi pembuka rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-661 Ngawi. Berlanjut hari ini, berupa ziarah makam para pendiri Ngawi. Sementara, pada Minggu mendatang (7/7) atau tepat sehari sebelum HUT Ngawi, digelar malam tirakatan. ‘’Pada momentum hari jadi ini, kami berharap kerukunan dan kebersamaan terus dijaga demi mewujudkan pembangunan Ngawi yang merata,’’ ucap Kanang.

Jamasan pusaka kemarin, selain dihadiri sejumlah sesepuh Ngawi, juga disaksikan para pejabat di lingkup pemkab setempat. Selain itu, dihadiri seluruh anggota forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda).

Ada yang berbeda pada jamasan kali ini. Jika biasanya setelah dijamas, pusaka diarak ke Kota Lama, kemarin langsung disimpan kembali di gedung pusaka kompleks Pendapa Wedya Graha. (tif/isd/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button