Ngawi

Demi Bhinneka Tunggal Ika, Paijo Jalan Kaki Keliling Nusantara

Beragam cara bisa dilakukan untuk keliling Indonesia. Mulai dari sekadar backpacker, traveller, hingga ikut biro perjalanan. Namun, laki-laki asal Makassar ini memilih berjalan kaki bermodal ala kadarnya.

——————-

SUGENG DWI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

TERIK matahari siang itu menghentikan langkah Prayogi PY menyusuri jalanan Ngawi. Sembari meneguk air minum, badannya direbahkan di lantai minimarket. Selembar kertas di tas punggungnya bertuliskan Jalan Kaki Keliling Nusantara itu mengundang warga penasaran ingin mendengar ceritanya. Satu per satu pertanyaan dijawab dengan ramah meski keringat masih bercucuran. ‘’Saya dari Makassar, mulai perjalanan 10 bulan lalu,’’ kata Prayogi PY.

Berangkat Oktober 2018 silam, beragam kota disusuri Paijo, sapaan akrabnya. Di Pulau Jawa mulai Surabaya hingga Jakarta. Di Sumatera, Lampung dijelajahi. Warga Kelurahan Sudiang, Biringkanayya, Makassar, Sulawesi Selatan, itu membawa misi khusus. Eksperimen sosial mengenai pandangan masyarakat Indonesia akan warga asing membuatnya terusik untuk memulai penelitian. ‘’Mau saya tulis jadi buku, tentang Bhinneka Tunggal Ika kembali seperti dulu,’’ ujarnya.

Meski baru setengah perjalanan, Paijo merasakan betul perbedaan budaya dan bahasa antardaerah yang dikunjungi. Cibiran dan hinaan acap diterima selama melakoni misinya. Bahkan, sempat beberapa kali diusir saat numpang istirahat. ‘’Saat bereksperimen, saya  tanggalkan semua atribut, karena hasilnya akan beda jauh,’’ papar pemuda kelahiran 26 Februari 1998 ini.

Menurut Paijo, tak jarang masyarakat penasaran dengan rombel tulisan keliling dunia yang dibawanya. Saking penasarannya, sempat salah seorang warga berjam-jam menunggu tas tersebut tanpa tahu pemiliknya. Berbeda saat berjalan menggunakan rombel perjalanan itu, warga welcome. ‘’Sering waktu jalan difoto, tapi kalau waktu gak pakai atribut ya dianggap biasa,’’ tuturnya.

Puluhan kota dilalui, beragam pengalaman dirasakan Paijo. Termasuk beberapa kali dibegal dan dipalak. Di Lampung, misalnya, sempat ditodong preman diminta menyerahkan barang-barang yang dibawanya. Dia pun harus berganti handphone lima kali lantaran dirampas. ‘’Uang untuk makan dari hasil kerja. Jual tisu, koran, bantu petani panen, sampai cuci piring,’’ ungkap Paijo yang kesulitan mencari uang di Ngawi lantaran terbentur perda larangan berjualan di lampu merah.

Selain pengalaman jadi korban tindak kriminal, pengalaman menyenangkan juga banyak dirasakan. Seperti kesempatan berkunjung ke tempat wisata hingga menjajal kuliner khas daerah. Saat kesengsem dengan kota tertentu, Paijo bisa tinggal hingga berhari-hari. ‘’Ngawi juga bagus. Di sini lumayan lama, hampir seminggu. Kalau terasa gak nyaman, sehari langsung lanjut perjalanan,’’ terangnya.

Paijo juga memburu stempel di setiap daerah. Itu sebagai koleksi sekaligus tanda surat jalan ekspedisinya. Semua itu dibukukan bersama misi yang diembannya di setiap kota. ‘’Bukan untuk minta duit,’’ katanya.

Sempat mengajak 100 orang rekan untuk memulai perjalanan 10 bulan lalu, tak seorang pun sudi menemani. Namun, seusai mendengar kisah perjalanannya, tak sedikit rekannya minta mendampingi. ‘’Sekarang giliran saya yang nolak,’’ pungkasnya lantas tertawa.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close