Magetan

Delapan Tahun Hidup Sendiri di Rumah Tak Layak Huni

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Hari tua yang dilalui Rubi sungguh berat. Hidup sebatang kara, nenek berusia 79 tahun itu hidup di rumah yang jauh dari kata layak. Dindingnya yang jebol akibat diterjang hujan deras hanya ditutup terpal. Dinginnya angin malam dengan mudah menembus kulit. Menusuk tulang yang sudah renta itu. ‘’Saya tidak punya uang untuk memperbaiki rumah,’’ kata Rubi, Rabu (9/6).

Rubi tinggal di Dusun Wide, Desa Sidowayah, Kecamatan Panekan. Sudah sejak delapan tahun lalu Rubi tinggal seorang diri, usai anak laki-laki semata wayangnya pamit merantau. Sejak saat itu sang anak tak jelas rimbanya. Setiap malam Rubi selalu menangis kala teringat sang anak. ‘’Tidak tahu ke mana. Pamitnya bekerja, tapi tidak ada kabar sampai sekarang,’’ tuturnya.

Rubi hidup hanya dengan uang Rp 10 ribu per hari. Dia bekerja sebagai buruh tani serabutan. Upah menyortir bawang, misalnya, hanya kisaran Rp 5.000. Dengan uang seminim itu, untuk makan pun kadang tak cukup. ‘’Apalagi untuk memperbaiki rumah,’’ keluh Rubi.

Rumah Rubi dapat dikatakan tak layak huni. Tak hanya dinding yang jebol dan berpenutup terpal. Rumahnya juga rawan roboh. Dinding yang sudah miring itu hanya disangga bambu. Pun, atap rumah Rubi sudah bocor. Air hujan masuk dengan mudahnya. Kendati sempat menerima bantuan rehab sembilan tahun lalu, rumah berukuran 24 meter persegi itu tetap saja tak layak. ‘’Saya bersyukur kalau ada yang membantu,’’ ucapnya. (fat/c1/naz/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button