Magetan

Delapan Bulan Mati Suri, Alat Perbaikan IPAL Masih Pengadaan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Berhentinya roda produksi lingkungan industri kulit (LIK) Magetan diprediksi hingga akhir tahun. Sebab, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang over-kapasitas hingga menjadi biang kerok pencemaran lingkungan perlu diperbaiki.

Persoalannya, alat perbaikan belum bisa dibeli dalam waktu dekat. Kondisi itu berpengaruh terhadap kapan kembali beroperasinya industri dengan 110 pengusaha yang mempekerjakan sekitar 500 karyawan itu. Kemungkinan mati surinya LIK ini mencuat dalam rapat bersama bupati dengan para stakeholder. ‘’Paling cepat Oktober (delapan bulan lagi, Red) nanti siap beroperasi,’’ kata Bupati Magetan Suprawoto Senin (2/3).

Kang Woto, sapaan Suprawoto, menyebut bahwa belt press dan sludge dryer adalah alat yang akan digunakan untuk mengolah sludge atau lumpur aktif. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur telah menganggarkan dana untuk pengadaannya. Perbaikan menjadi tanggung jawabnya daerah tingkat I karena UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Magetan di bawah naungan disperindag. ‘’Rapat di Surabaya bersama disperindag juga untuk memecahkan masalah LIK,’’ ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan Uswatul Khasanah menyebut, pihaknya tidak pernah meminta Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) DPD setempat untuk berhenti berproduksi dan melakukan penyamakan. Melainkan mengurangi kapasitas produksi selama menunggu proses perbaikan. ‘’Hanya mengurangi jumlah produksi sambil menunggu alat siap. Karena kunci limbah yang sesuai baku mutu itu pada belt press dan sludge dryer,’’ terangnya.

Ana, sapaan Uswatul Khasanah, tidak mengkhawatirkan adanya pengusaha yang membandel. Yakni, tidak mengurangi kapasitas produksi selama masa tunggu perbaikan. Lembaganya akan melakukan evaluasi secara berkala. ‘’Karena pihak UPT yang memberikan batasan kapasitas produksi. Kami akan meminta pertanggungjawaban,’’ ujarnya.

Selama menunggu alat siap, sludge sementara waktu bisa dibuang di lokasi UPT atau dekat tempat pembuangan akhir (TPA) Milangasri. Namun, ada ketentuan teknis yang harus dipenuhi pengusaha. Lumpur aktif tidak bisa ditimbun begitu saja.

Di luar urusan IPAL, UPT harus menindaklanjuti pengurusan izin penampungan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Juga harus mengantongi izin pembuangan limbah cair (IPLC) ke Sungai Gandong. Memperbarui dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL). ‘’Karena sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini,’’ ungkap Ana.

Dia menyebut, produksi kulit dari semula 10 ton naik menjadi 20 ton per harinya. Peningkatan itu seharusnya masuk dalam dokumen UKL-UPL. ‘’Semuanya masih dalam proses,’’ katanya ditanya progres UPT mengurus perizinan tersebut. (bel/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button