Ponorogo

Debat Publik Putaran Pertama Paslon Pilkada Ponorogo

Eyel-eyelan Pupuk Organik Cair

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Dua pasangan calon (paslon) kontestan Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Ponorogo sepakat pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan merupakan tugas penting. Minggu malam (1/11), di Sasana Praja, dalam debat publik putaran pertama, mereka beradu ide dan program untuk mengurai persoalan tersebut.

Paslon nomor urut 1 Sugiri Sancoko-Lisdyarita membeber banyak elemen masyarakat sebagai sedulur-nya. Dia menjelaskan program yang tertuang dalam Nawa Darma Nyata merupakan gagasan dalam menyejahterakan masyarakat. ‘’Sembilan program tersebut sejalan dengan program gubernur dan presiden dan bermuara untuk membuat Ponorogo hebat,’’ tuturnya.

Menurut Sugiri, pemerintahan sebelumnya belum mampu menyejahterakan petani. Ketergantungan pupuk subsidi masih tinggi. Bantuan pupuk organik cair (POC) kurang efektif dan membebani anggaran. ‘’Padahal, ada desa yang mampu memproduksi POC dengan harga lebih murah. Kenapa tidak dibeli sekaligus untuk memberdayakan ekonomi desa,’’ ujarnya.

Revolusi industri, menurut Sugiri, merupakan momentum mengangkat usaha mikro di Ponorogo. Pelaku usaha yang belum melek teknologi dapat dibantu anak muda di desa-desa. Pun untuk memberdayakan pemuda. ‘’Kami angankan program Circle-P. Yaitu, memasarkan produk lintas kecamatan. Misal produk Ngrayun dijual di Sukorejo, dan sebaliknya,’’ papar Sugiri.

Paslon nomor urut 2 Ipong Muchlissoni-Bambang Tri Wahono menyebut  tujuan utama bernegara adalah menyejahterakan masyarakat. Dalam lima tahun ke depan, Ipong bakal melanjutkan program peningkatan kesejahteraan yang sudah dijalankan. ‘’Ditambah program yang belum selesai. Misalnya, desa digital, atau bantuan untuk ketahanan masyarakat melalui dasawisma dan rukun tetangga,’’ ujarnya.

Ipong mengklaim program POC mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk subsidi. Saat pemerintah pusat mengurangi pasokan imbas pandemi Covid-19, petani masih menerima bantuan POC. ‘’Sejak bantuan POC digulirkan, nilai tukar petani naik dibandingkan 2015 dengan 2019,’’ klaimnya.

Menurut Ipong, intensifikasi harus diupayakan untuk mengatasi semakin menyempitnya luas lahan pertanian. Industrialisasi pertanian dianggap solusi agar petani mampu meningkatkan nilai jual dan diversifikasi produk. ‘’Ditopang desa digital, anak muda diharapkan dapat terlibat langsung menjual produk unggulan petani dan warga desanya. Sekaligus juga membuka lapangan kerja bagi usia produktif,’’ papar Ipong. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close