Opini

Daring Outdoor Learning

TANGGAL 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tema Hardiknas juga selalu berubah setiap tahunnya. Hardiknas tahun ini mengambil tema Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar. Jujur saya tertarik dengan konsep Merdeka Belajar yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Melalui konsep ini, baik guru maupun peserta didik, diberi kesempatan untuk menentukan metode belajar yang paling cocok. Tentu saja cocok bagi keduanya. Saya rasa itu cukup adil karena memang setiap orang memiliki caranya sendiri dalam pengembangan diri.

Contoh sederhananya, ada anak yang suka belajar di dalam ruang. Sebaliknya ada juga yang suka di taman dengan nuansa alam. Tenaga pendidik juga seperti itu. Ada yang suka mengajar langsung tanpa banyak drama. Ada pula yang butuh alat peraga. Kita tidak bisa menyalahkan mereka. Karena setiap manusia itu sejatinya berbeda. Biarpun ada yang punya kesamaan. Tapi pasti ada perbedaan di hal lainnya. Itu saya buktikan saat kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka berkonsep outdoor learning di masa pandemi ini. Ternyata banyak pelajar yang suka konsep itu. Mungkin juga karena sudah bosan daring. Saat anak sudah suka dan tertarik, materi pelajaran juga akan lebih mudah diterima.

Saya jadi teringat masa-masa mengajar dulu. Ya, saya memang berangkat dari seorang tenaga pendidik. Seingat saya hanya ada dua pemimpin daerah yang berlatar belakang guru. SK CPNS saya turun pada 1988 silam. Pada SK itu saya ditugaskan untuk mengajar di SMP 2 Pilangkenceng. Setahun kemudian, SK PNS turun dan saya ditugaskan di SMAN 1 Kota Madiun. Saya cukup lama di Smasa, julukan SMAN 1. Dari 1989 sampai 2002 setelah saya dipindahtugaskan menjadi kepala SMAN 2 Kota Madiun.

Kurang lebih 14 tahun saya mengajar. Saya termasuk guru yang tidak mengajar begitu saja. Harus ada sesuatu yang berbeda dari guru lain agar anak tidak bosan. Karenanya, saya sering kali mengajar di laboratorium. Alasannya, agar bisa memanfaatkan teknologi saat itu. Biarpun tak secanggih sekarang, saya termasuk guru yang kerap menggandeng teknologi informatika. Pada saat itu kebanyakan guru masih menggunakan cara konvensional. Mungkin saya termasuk yang kurang nyaman dengan cara biasa.

Memberikan kebebasan kepada tenaga pendidik untuk menentukan metode mengajar yang cocok juga bukan perkara mudah. Saya paham setiap guru punya kendala tersendiri. Baik kendala internal maupun dari faktor luar. Karenanya, tenaga pendidik harus pandai membaca situasi. Metode yang dipilih baiknya bukan hanya cocok bagi sang guru. Tetapi juga harus bisa diterima peserta didik. Harus membuat peserta didik nyaman. Itu penting agar materi mudah diserap. Karena pada prinsipnya adalah seberapa besar materi itu bisa dipahami murid. Percuma menjelaskan sampai berbusa-busa kalau pada kenyataannya hanya keluar-masuk telinga.

Materi yang disampaikan ibarat satu majalah baru yang menarik di mata pembaca. Kalau majalah itu menarik, pembaca akan berebut membacanya. Artinya, mereka suka dan antusias. Isi dari majalah itu biasanya juga mudah diserap. Beda cerita dengan ada banyak majalah tapi kurang menarik. Biarpun dipaksa membacanya, isi dalam majalah juga kurang dapat dipahami. Itu karena dari awal kurang menarik.

Menarik itu kompleks. Bisa dari penampilan, cara penyampaian, hingga pemilihan materinya. Seperti halnya konsep outdoor learning tadi. Konsep tersebut tidak sekadar KBM di luar ruang. Namun, juga harus ada kreasi di dalamnya agar semakin menarik. Saya selalu memacu tenaga pendidik agar semakin menggali potensi diri. Hasilnya cukup baik. Ada banyak konsep PTM outdoor learning yang menurut saya cukup baik. Salah satunya memadukan lokasi dengan mata pelajarannya. Ada yang memanfaatkan RTH Kartini untuk pembelajaran sejarah. Ada juga yang memanfaatkan taman kebun bunga untuk pembelajaran IPA.

Konsep ini akan kita lanjutkan ke depan. Jika pandemi Covid-19 masih mengganas, mungkin bisa kita padukan dengan konsep daring. Peserta didik bisa belajar di luar ruang. Sedangkan gurunya bisa menggunakan daring jika berhalangan hadir. Konsep daring outdoor learning ini tidak harus skala besar. Bisa hanya empat sampai lima anak di satu taman mengikuti arahan guru secara daring. Seperti kata Menteri Makarim, peserta dan tenaga pendidik boleh menentukan metode yang cocok. Menurut saya, inilah metode pembelajaran yang cocok saat ini. Pun, terbukti disukai anak-anak. Setidaknya dari evaluasi PTM outdoor learning beberapa waktu lalu. Pandemi Covid-19 memang masih menghantui. Tetapi dunia pendidikan tidak boleh berhenti. Mari kita terus berinovasi dan berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button