Madiun

Dari Tato, Wabin Lapas Kelas I Madiun Membatik

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Meski terpenjara, kreativitas tak boleh terbelenggu. Para warga binaan (wabin) Lapas Kelas I Madiun membuktikan itu. Mereka mampu menghasilkan batik tulis dan aneka roti. Bahkan, produk mereka telah dipasarkan hingga luar daerah.

Slamet Arifin, salah seorang wabin asal Surabaya, mendapat hiburan sekaligus keterampilan baru. Kini, hari-harinya tak jauh dari canting. Dia kini tahu dan paham proses membatik. Mulai membuat pola dengan pensil, mencanting, pewarnaan, perendaman, hingga penjemuran. ‘’Saya pernah buat motif naga, daun, juga merak,’’ kata Arifin, Minggu (26/9).

Pria 30 tahun itu biasanya membatik bersama dua rekan senasibnya. Tugasnya mencanting gambar pola. Sementara proses selanjutnya diteruskan wabin lain hingga menjadi batik yang siap dipasarkan. ‘’Tidak jenuh di kamar terus. Setelah keluar dari sini bisa buat usaha sendiri dengan batik,’’ ujarnya.

Wayan, wabin lain, berpandangan sama. Seniman tato dari Pulau Bali itu mendapat pengalaman baru. Ide gambar yang semula dituangkan di kulit tubuh, dialihkan pada kain hingga menjadi pola batik. Wayan pun mendapat tugas membuat pola. ‘’Cukup sulit awalnya, karena dulu bikin tato sekarang bikin batik. Lebih sulit batik, tapi senang dapat pengalaman baru,’’ tutur Wayan.

Kepala Lapas Kelas I Madiun Asep Sutandar mengatakan, selain membatik, wabin juga dibekali keterampilan lain. Terbaru, produksi roti khusus untuk wabin perempuan. Dua keterampilan itu termasuk dalam pembinaan kemandirian. Diharapkan wabin menghasilkan karya yang bernilai ekonomis tinggi. ‘’Dua bulan terakhir batik, terus ada juga buat roti,’’ kata Asep.

Asep menyebut, kualitas produk batik dan roti layak dipasarkan. Buktinya, 40 karya batik karya wabin sudah dipasarkan ke berbagai daerah. Mulai Kota Madiun hingga Magetan. Termasuk produk roti yang dibanjiri pesanan dari instansi lingkup Pemkot Madiun. ‘’Ke depan kami akan tambah jumlahnya, karena punya tempat yang cukup luas,’’ ujarnya.

Selain bekal dua keterampilan itu, pembinaan bidang lain tetap berjalan. Seperti pelatihan mebel, menjahit, serta produksi handicraft. Termasuk juga peternakan, perikanan, dan pertanian. ‘’Sebelumnya yang sudah ada tetap berlanjut. Ada budi daya lele dikombinasikan kangkung dan sayuran lain,’’ terangnya. (kid/c1/sat/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button