features

Dari Jalanan Dwi Warno Kais Rezeki Jadi Pelukis Sketsa-Fine Art

Hobi jika ditekuni serius bisa berbuah pundi-pundi rupiah. Itu pula yang dirasakan Dwi Warno. Pun, peminat karyanya berasal dari berbagai daerah di tanah air.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

PADA era 1980-an nama Saddam Hussein –presiden Irak kala itu- kerap muncul dalam pemberitaan di koran. Maklum saja, saat itu Perang Teluk yang melibatkan negara tersebut dan Iran tengah berkecamuk. Lewat koran pula Dwi Warno mengenal sosok Saddam.

Nah, pada 1989 ketika masih duduk di bangku SMP, Dwi menggambar sosok Saddam. Siapa sangka, karyanya tersebut mendapat pujian dari gurunya hingga Dwi menyadari memiliki bakat melukis. ”Guru saya bilang, jika kamu menekuni dengan serius bisa dijadikan mata pencarian untuk mendapatkan uang,” kenang Dwi.

Tamat dari SMP, Dwi melanjutkan pendidikan ke STM. Setelah lulus dia memilih merantau. Namun, hal itu tidak bertahan lama. Dwi akhirnya pulang kampung ke Kota Madiun. Pada 1997 dia mulai serius menekuni pekerjaan sebagai juru sketsa wajah dan fine art.

Awalnya warga Jalan Margatama, Kanigoro, Kartoharjo, itu membuka lapak di Jalan Rimbakaya. Dua tahun berselang pindah di depan kantor Kelurahan Oro-Oro ombo, kemudian Jalan Jawa, Pahlawan, kawasan alun-alun, dan beberapa lokasi lainnya. ‘’Tahun 2001 saya gabung komunitas di Madiun,’’ ungkapnya.

Sejak itu, banyak karyanya yang terjual ke tangan pencinta lukisan berbagai daerah. ”Saya jadi tambah semangat untuk terus belajar,’’ ujarnya. ‘’Benar kata guru saya, dari hobi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah,” imbuhnya.

Hingga saat ini Dwi masih setia menjadi pelukis jalanan. Selain itu, menawarkan karyanya lewat media sosial. Pun, masa pandemi Covid-19 tidak menurunkan produktivitasnya membuat lukisan. ”Meskipun bukan pesanan, tetap berkarya. Hampir tiap hari menggambar. Setidaknya untuk jaga mood,” sebutnya.

Selama ini sejumlah pejabat seperti kepala kodim dan pimpinan bakorwil sempat memesan sketsa kepadanya. Pun, tidak sedikit peminat dari luar daerah mulai Ngawi, Caruban, Magetan, Surabaya, hingga Bali. Sementara, dia mematok tarif pembuatan sketsa wajah Rp 150 ribu sampai Rp 600 ribu. Sedangkan fine art di kisaran Rp 750 ribu.
”Satu sketsa wajah selesai 15-20 menit, sedangkan fine art bisa sampai 45 menit,’’ ujar Dwi sembari menyebut selama ini pernah ikut pameran di berbagai daerah mulai Kediri, Surabaya, Jogjakarta, hingga Jakarta. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button