features

Dari Hena, Afifatul Hakhimah Dapatkan Pundi-Pundi Rupiah

Dunia hena kini menjadi ladang Afifatul Hakhimah mendapatkan penghasilan. Dalam sebulan tak kurang dari 30 job diperoleh perempuan itu dengan tarif sekali menghena mencapai ratusan ribu rupiah.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

RUTINITAS Afifatul Hakhimah bergelut dengan peralatan hena dimulai usai pulang dari Batam. Kala itu dia menjadi pekerja freelance di sebuah stan. Nah, di depan tempatnya bekerja ada stan hena. Belakangan dirinya penasaran dan belajar ilmu perhenaan hingga terbilang mahir.

Suatu ketika, pekerja di stan hena itu resign. Mengingat kontrak kerjanya telah berakhir, Afif –sapaan akrab Afifatul Hakhimah- lantas menggantikannya. ‘’Sesuatu yang baru bagi saya. Saya juga tidak pernah berpikir hena bisa menjadi ladang mendapatkan penghasilan,’’ ungkapnya, Jumat (25/6).

Meski kala itu hena belum booming, Afif terus mengasah kemampuannya. Setelah mahir, tak jarang dia membuka lapak di tengah keramaian bundaran Jalan Taman Praja saat Minggu. Juga menerima panggilan. ‘’Tapi, stan saya akhirnya tutup. Saya lantas memberanikan diri buka jasa sendirian,” kenangnya.

Tepatnya sejak tiga tahun lalu Afif ’’bersolo karier’’. Pun, banyak pengalaman menarik dirasakan perempuan 25 tahun itu. ”Kerja sambil piknik. Soalnya kan pindah-pindah lokasi,” ujarnya setengah bercanda. ‘’Pernah setelah di Ponorogo, lanjut Gemarang, Kare, dan Ngawi dalam satu hari,’’ imbuhnya.

Berbagai peralatan menjadi ’’senjata’’ Afif membuat hena. Mulai cone dari plastik, lem, glitter gemstone, hingga kuku palsu. ‘’Motifnya terkadang sesuai request klien,’’ tuturnya sembari menyebut membuat hena membutuhkan ketenangan dan percaya diri.

Kini dalam satu bulan Afif bisa menggarap sampai 30 job. Paling ramai saat musim pernikahan. Meski begitu, dia membatasi hanya empat lokasi. Tarif yang dipatok bervariasi. Warna putih, misalnya, di kisaran Rp 300 ribu. Sedangkan merah Rp 250 ribu. ‘’Musim wisuda dan Lebaran juga lumayan ramai,’’ sebutnya.

Ada cerita ’’menyedihkan’’ yang hingga sekarang tidak bisa dilupakan Afif selama menjadi seniman hena. Suatu ketika dia mendapat panggilan menghena calon pengantin di luar daerah. Sampai di lokasi ternyata semua anggota keluarga minta dihena. ‘’Saya pikir mereka paham tarifnya. Ternyata waktu amplop dibuka hanya berisi Rp 50 ribu,’’ kenangnya. ”Tapi, tetap disyukuri. Yang penting bisa buat ongkos pulang,” imbuhnya.

Cerita unik lain, saat hendak mengerjakan job di lokasi yang susah sinyal sempat kesasar di sebuah kuburan. ”Padahal waktu itu sudah jam sepuluh malam,” ujar warga Jalan Urip Sumoharho, Manguharjo, itu. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button