Madiun

Dari Fotografer, Andri Kini Sukses Tekuni Bisnis Kopi

Pilih Tidak Mempekerjakan Karyawan

Usaha sewa kamera mulai meredup, Apriliandri Pamungkas Hasdiono beralih bisnis kopi. Keputusannya tidak keliru. Kini, dalam sehari puluhan cup kopi hasil racikannya berpindah tangan ke konsumen.

====================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

AROMA kopi menyeruak saat menginjakkan kaki di pelataran rumah Apriliandri Pamungkas Hasdiono di Perumahan Bumi Mas 2 Kota Madiun. Melewati pintu pagar, terlihat dua meja di teras rumah. Rasanya sulit mengatakan kalau itu kedai. Namun, di sampingnya terdapat garasi berukuran 4×6 meter yang telah disulap layaknya mini bar.

Terdapat jendela berukuran sedang. Dari jendela itu tampak berbagai peralatan meracik kopi. Ya, sejak April lalu Andri- panggilan akrab Apriliandri Pamungkas Hasdiono- membuka kedai kopi. Mengusung konsep on the go, mayoritas pembeli menggunakan jasa ojek online. Dalam sehari, tak kurang 50 cup berpindah ke tangan konsumen.

Andri memiliki dua racikan kopi andalan yang diberi nama Sendja dan Caregal. Kopi Sendja merupakan hasil mix kopi robusta, arabika, dan susu. Ukuran setiap komposisi dihitung betul sehingga menghasilkan cita rasa yang pas. Dalam setiap tegukan meninggalkan rasa pahit kopi yang begitu khas. ‘’Ada takaran yang harus pas dalam meracik, itu rahasianya,’’ ujar Andri.

Sementara, Caregal merupakan perpaduan karamel dan regal. Andri sengaja mengganti ram dengan karamel. Sebab, ram merupakan bahan fermentasi yang masih diragukan halal atau tidaknya.

Ada satu kunci yang membuat produknya diminati. Yakni, semuanya diracik dengan tangan sendiri. Andri sengaja tidak mempekerjakan karyawan. Dia hanya dibantu Vidya Khansha istrinya. ‘’Pernah waktu itu diracik teman, tapi lalu DM (direct message, Red) dan komplain rasanya tidak seperti biasanya. Sejak itu, kapok saya. Kalau misalnya berhalangan mending kedai tutup,’’ ungkap pria kelahiran 1992 itu.

Andri masih ingat betul betapa susahnya mengawali bisnis kedai kopi. Awalnya sehari hanya laku lima cup. Dua bulan berselang, kedainya mulai mendapat tempat di hati penggemar kopi. Apalagi, harganya cocok dengan kantong anak muda. Berkisar Rp 13 ribu hingga Rp 16 ribu. ‘’Sebenarnya saya berangkat dari fotografi,’’ sebutnya.

Andri menekuni dunia fotografi sejak 2004. Awalnya mempelajari kamera analog. Pada 2009 dia mulai mengenal kamera DSLR. Sejak 2013 lalu Andri membuka persewaan kamera. Modalnya satu kamera dan menjadi satu-satunya orang yang membuka persewaan kamera di Madiun Raya.

Dari satu kamera itu dia mampu mengembangkannya hingga kini menjadi 29 unit dengan berbagai jenis. ‘’Masih berjalan sampai sekarang, tapi semakin ke sini peminatnya semakin berkurang,’’ tutur bungsu dua bersaudara pasangan Soedono-Nunung itu.

Sejak itulah Andri mulai berpikir banting setir berbisnis kopi. Apalagi, dia merupakan penggemar jenis minuman itu. Pun, sejak 2009 Andri keliling dari satu kedai ke kedai lainnya di berbagai kota di Jawa. ‘’Kalau mau beli, konsumen tidak perlu datang. Bisa pesan melalui aplikasi atau langsung order ke kami,’’ ucap alumnus Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI Madiun (sekarang Unipma) itu. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button