Magetan

Dari 16 Santri, 9 WNA dan 7 WNI Terpapar Covid-19

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Kecamatan Karas menjadi wilayah terbanyak pasien positif Covid-19. Setelah sebelumnya lima warga kecamatan tersebut terkonfirmasi positif, menyusul 16 santri juga dinyatakan positif korona. Ke-16 santri itu sebelumnya pernah menjalai rapid test dan hasilnya reaktif. Kemudian, setelah di-swab test menunjukkan hasil positif.

‘’Ini sangat memprihatinkan karena tambahan positif korona berasal dari satu area saja dan para pasien itu bukan hanya lintas daerah tapi lintas negara,’’ kata Jubir Penanganan Covid-19 Magetan Saif Muchlissun Minggu (26/4).

Muchlis –sapaan Saif Muchlissun- menjelaskan, dari 16 santri yang positif korona itu, sembilan di antaranya merupakan warga negara asing (WNA). Perinciannya, delapan dari Malaysia dan satu Thailand. Sedangkan sisanya yang tujuh orang merupakan warga Indonesia. Dari tujuh WNI, dua di antaranya berasal dari Magetan, tepatnya Kecamatan Parang dan Panekan.

Pasien positif itu saat ini tengah menjalani isolasi agar penyebarannya tidak semakin meluas di lingkungan pondok pesantren. ‘’Untuk santri asal Malaysia, rencananya akan pulang besok (hari ini, Red). Tapi karena dinyatakan positif, akan dirawat dulu sampai sembuh,’’ kata kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) itu.

Saat ini pemkab Magetan tengah fokus untuk memutus mata rantai penyebaran korona di area ponpes tersebut. Pun, dia mengklaim pihaknya sudah melakukan penangannan sesuai protokol kesehatan yang berlaku. ‘’Tidak mungkin kami keluar aturan,’’ tegasnya.

Muchlis menyebut, sebelum para santri itu meninggalkan ponpes sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Diakuinya, untuk santri asal Ponorogo yang pulang belum sempat dilakukan rapid test. Melainkan sekadar pemeriksaan suhu tubuh dan tekanan darah. Sebab, kala itu belum ada alat rapid test. ‘’Perlu dipahami karena ini kondisi darurat dan kami sudah berusaha. Kami sudah berusaha melaksanakan aturan kesehatan deteksi dini,’’ tuturnya.

Dia juga menyebut bahwa mobilitas di ponpes yang tinggi sudah diantisipasi oleh pihak pondok. Para santri dipulangkan lebih awal. Namun, wabah tidak bisa diprediksi kedatangannya. ‘’Memang physical distancing harus dilaksanakan dengan disiplin. Mulai sekarang tidak boleh tidak, harus melaksanakan imbauan pemerintah,’’ tegasnya.

Muchlis menambahkan, saat ini tak hanya area ponpes yang dilakukan karantina wilayah. Desa setempat pun sudah dilakukan lockdown lokal. Karantina wilayah itu mengadopsi yang telah dilakukan di Kecamatan Ngariboyo dan Magetan sebelumnya yang terbukti berhasil menekan penyebaran virus korona. ‘’Saat ini wilayah lalu lintas orang yang masuk Magetan diperketat. Pemudik kami minta kembali,’’ pungkasnya. (bel/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close