Madiun

Dampak Besar Ekspansi PT Inka ke Banyuwangi

MADIUN – Ekspansi PT Inka ke Banyuwangi diikuti dengan diboyongnya 2.500 pekerja. Menciptakan lubang masalah sosial-ekonomi bagi warga Kelurahan Madiun Lor, Manguharjo, Kota Madiun.

Beban masalah yang harus diurai Lita Febriana Hapsari bertambah di suatu hari pada September 2018. Lurah Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, itu mendengar kabar “buruk” dari pegawai kecamatan setempat bahwa PT Industri Kereta Api (Inka) berekspansi ke Banyuwangi. Perusahaan negara itu tidak akan memusatkan produksi masif kereta di pabrik yang berjarak kurang 100 meter dari kantornya di Jalan Candi Sewu. ’’Mengagetkan karena sudah tentu berdampak pada income usaha warga,’’ kata Lita ditemui di kantornya 15 April dua pekan lalu.

Lita patut gusar lantaran perkembangan sosial-ekonomi mikro wilayahnya banyak dipengaruhi Inka. Seratusan di antara 6.843 warganya menggantungkan hidup atas keberadaan karyawan pabrik sepur tersebut. Menjaga asa agar asap dapur tetap ngebul dengan warung makan, toko kelontong, dan rumah kos. Pendapatan mereka tentu berkurang ketika separo dari 6.600 karyawan industri yang sudah menjadi ikon Kota Madiun itu bermigrasi ke kabupaten berjuluk The Sunrise of Java. ’’Persoalan ini membuat saya harus mencari solusi supaya warga tetap sejahtera,’’ ujarnya.

Berdasar data Kelurahan Madiun Lor, ada 20 rumah kos berizin. Lima di antaranya berada di Jalan Candi Sewu. Hunian belasan kamar menjadi tempat bermukim karyawan Inka asal luar daerah. Kapasitas besar membuat pemiliknya menyediakan parkir kendaraan cukup luas. Lalu, 15 tempat kos lain tersebar di Jalan Borobudur. Meski ada beberapa karyawan Inka, penghuninya didominasi karyawan Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina Rayon V Madiun serta Lapas Klas I Madiun. ’’Biaya sewa kos di kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan. Tinggal dihitung saja dengan jumlah karyawan yang nanti pergi,’’ paparnya.

Mengacu data tersebut, seandainya satu kamar kos dengan nilai sewa Rp 500 ribu tidak ditempati dalam setahun. Maka, pengusahanya kehilangan income mencapai Rp 6 juta. Tidak hanya usaha kos, Lita meyakini pendapatan warung makan dan angkringan di sekitaran pabrik bakal merosot kendati belum bisa memprediksi nilainya. Sebab selama ini perputaran ekonomi jasa dagang tersebut tidak pernah redup.

Keberadaan mereka mampu mengkaver kebutuhan makanan para karyawan Inka dari mulai sarapan pagi hingga tengah malam. Sebab, mobilitas produksinya berlangsung 24 jam nonstop. Banyak pekerja kerja sif malam lapar mencari makan atau sekadar ngopi. Penurunan otomatis terjadi ketika pabrik di Jalan Yos Sudarso itu tidak menerapkan sistem kerja penuh. ’’Belum lagi ada warung makan di gang-gang kampung (mengkaver penghuni kos, Red) dan toko kelontong,’’ ucap aparatur sipil negara (ASN) 34 tahun tersebut.

Jawa Pos Radar Madiun menghitung ada 22 usaha di Jalan Candi Sewu dan Prambanan yang paling berdekatan dengan pabrik Inka. Puluhan usaha itu terdiri pedagang kaki lima (PKL), warung makan, dan laundry. Serta menghimpun keterangan dari Suhadi ketua RT 11, RW 03 kelurahan setempat, ada dua warung makan yang buka selama 24 jam. Warung tersebut melekat dengan rumah kos berkapasitas 50 kamar yang nyaris selalu terisi penuh. Satu anak kos bisa makan nasi pecel lauk telur dan minuman dengan uang Rp 10 ribu. Mengacu data tersebut dan asumsi separo penghuni rumah kos dibawa ke Banyuwangi, maka warung itu berpotensi kehilangan pemasukan Rp 250 ribu. Nominal tersebut untuk sekali makan dalam sehari. Bisa jauh lebih besar dengan menu makanan lain yang harganya lebih mahal.

Citra Inka terlanjur positif di Kota Pecel. Lita pun waswas kelangsungan corporate social responsibility (CSR) untuk wilayahnya tatkala konsentrasi produksi perusahaan itu berubah. Selama ini, penyisihan kontribusi keuntungan perusahaan sepur itu cukup apik. Perusahaan yang tahun lalu membukukan laba bersih Rp 89,45 miliar ini rata-rata menyalurkan 10 kali CSR dalam setahun. Bahkan, Lita menimbang pelayanannya terbaik dari sejumlah perusahaan lain di Kecamatan Manguharjo. Indikatornya aspek pengajuan selalu direspons, pencairan tidak ribet, dan tepat sasaran. ‘’Banyak pengajuan warga lewat kelurahan yang bisa langsung dieksekusi hanya menunggu seminggu,’’ urai Lita sembari menyebut salah satu contoh CSR itu pembangunan pos kamling senilai Rp 5 juta di Jalan Banda.

Kemudahan lainnya tidak jarang warga yang langsung nembung CSR tanpa perantara kelurahan. Biasanya ketika momen 17 Agustusan dan kegiatan jalan santai. Alih-alih proposal pengajuan ditolak, Inka malah menyetujuinya. ’’Warga Madiun Lor juga kerap dilibatkan dalam penyelenggaraan event internal,’’ imbuhnya.

Lita menyadari perkembangan Inka cukup pesat sejak didirikan 38 tahun silam menilik jam kerja produksi yang tidak pernah mati. Dia paham kendala lahan dan mereduksi biaya operasional sebagai faktor pemicu membuat “adik” di Banyuwangi. Alasan tersebut sudah diketahui luas warganya. Mereka memilih pasrah. Namun demikian, Lita tidak tinggal diam dengan mencarikan solusi agar ekonomi mikro wilayahnya tidak mati. Salah satunya upaya memfasilitasi warung berkualitas bagus untuk join dengan jejaring pemesanan makanan online. ’’Kelak konsumen tidak hanya warga sekitar meski persaingan juga sangat tinggi,’’ ucapnya.

Sumber daya manusia (SDM) Inka mencapai 6.600 orang yang terbagi dalam dua kelompok. Perinciannya, lima ribu terdiri pekerja berstatus kontrak kerja terbatas, sokongan dari anak dan cucu perusahaan, serta pekerja borongan yang disuplai sub-kontraktor. Sisa 1.600 adalah direksi dengan anggota berbagai divisi. Dari total ribuan karyawan tersebut, mayoritas berasal Madiun Raya yang lolos rekrutmen dengan berbagai kualifikasi. ’’Saya tidak bisa mempresentasekan, tapi sebagian karyawan produksi memang ngekos dan mengontrak rumah di perkampungan dekat kantor,’’ kata Senior Manager Humas Sekretariat dan Protokol PT Inka Hartono.

Hartono buka-bukaan sedikitnya 2.500 dari total karyawan produksi kelak digeser ke Banyuwangi. Migrasi itu otomatis membuat salin skema pekerjaan di pabrik yang tetap diposisikan sebagai kantor induk. Paling kentara tidak ada lagi aktivitas bekerja 24 jam nonstop. Banyuwangi difokuskan memproduksi lokomotif dan kereta penumpang untuk pasar luar negeri dan luar Pulau Jawa. Sedangkan yang masih ditinggal untuk memenuhi permintaan Pulau Jawa dan memproduksi komponen kereta. Meski ada pembagian tugas dan reduksi karyawan, Hartono yakin penurunan ekonomi mikro warga sekitar pabrik tidak terlalu signifikan. ’’Karena kami berupaya memperluas jaringan,’’ ujarnya.

Produksi komponen bogie, misalnya. Perangkat roda tersebut tidak sebatas memenuhi kebutuhan kereta sendiri, tetapi bisa dijual ke luar negeri. Inka mengklaim sedang ada proses penjajakan dengan Tiongkok dan Turki. Kedua negara tersebut tertarik menjalin kerjasama membeli bogie. ‘’Ketika kelak berkembang, pekerja bisa bertambah dan daya saing ekonomi warga bisa kembali normal,’’ ucapnya sembari menyebut belum ada rencana jajaran direksi ambil bagian pindah Banyuwangi.

Hartono mengutarakan pemindahan pekerja harus dilakukan karena sejumlah hal. Faktor utamanya menciptakan pekerja terampil mengetahui kualitas dan standardisasi produk cukup sulit.

Proses mendidiknya memakan waktu tidak hanya setahun atau dua tahun. Karenanya, lebih efektif mengambil para pekerja yang sudah ada. Karena telah memiliki skill dan paham karakteristik kereta. Dalam jangka pendek, berkurangnya jumlah pekerja diklaim tidak mengubah kuantitas dan kualitas kereta yang diproduksi. ’’Karena mengoptimalkan dengan sistem teknologi,’’ ujarnya.

Inka telah menyampaikan rencana ekspansi ke Banyuwangi kepada pejabat teras pemkot pertengahan tahun lalu. Responsnya pun tidak kalah kagetnya dengan Lita dan warganya. Hartono masih sering mendengar suara publik yang menganggap perusahaan pelat merah yang lahir dan tumbuh di Kota Karismatik ini bakal pindah menetap selamanya di daerah yang dipimpin Abdullah Azwar Anas tersebut. Hingga mengkhawatirkan dampak ekonomi mikro–makro serta investasi Kota Madiun ke depannya. ’’Pemkot sangat terkejut dan bertanya-tanya alasan. Tapi, mereka langsung paham setelah diinformasikan latar belakangnya,’’ kata Hartono yang menegaskan jalinan hubungan dengan stakeholder Kota Gadis tidak akan terputus begitu saja. (*/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close